Dahulu saya iri melihat teman sepermainan semasa kecil yang begitu dimanjakan dengan berbagai jenis mainan oleh orangtua mereka, bikin saya ngerasa “berbeda”. Setelah menginjak bangku SMP, SMA bahkan mengenyam bangku kuliah rasa iri yang lain bertubi-tubi menghampiri. Terlebih melihat rekan-rekan “seperjuangan” yang selalu sekolah di sekolah negeri, sedangkan saya selalu sekolah di “luar negeri” alias swasta.
Setelah saya mendapatkan gelar sarjana, saya iri liat temen-temen saya habis lulus dapet kerjaan bonafid, pegang gaji lebih dari sejuta dan hidup di kota-kota besar. Sementara saya terdampar jadi guru dengan gaji yang jauh dari kata cukup, bikin saya jadi kebelet pingin punya kerjaan keren juga: jadi guru yang “waras” dan ya, saya memang dapat pekerjaan itu, sekalipun itu semua harus saya bayar tunai dengan ketidaknyamanan dan rasa bersalah yang teramat sangat.
Itu pilihan saya, memang, seperti juga halnya ketika akhirnya saya undur diri dari pekerjaan ini dan mengambil tawaran yang lain yang lebih “menarik’ dari sudut pandang saya yang aneh. Saya emang masih tetep iri liat temen-temen berstatus pegawai 1jt-an..tapi rasa irinya semakin hilang ketika saya ikhlas jalani aktivitas saya, saya cinta mengajar, saya senang anak-anak, saya bahagia lihat mereka amat sangat antusias ketika saya yg mengajar.
Ketika saya sudah merasa tenang dengan pekerjaan ini, saya kembali dibuat iri karena melihat teman-teman kuliah saya, teman-teman mengajar saya, pada menikah! oh Tuhan, saya ngga akan se-iri ini kalau saja pemahaman baik mengenai proses hidup ini datang lebih cepat. Apalagi harus berhadapan dengan orang-orang picik yang berpikiran sempit yang tak henti-hentinya “merongrong” kenyamanan dengan pertanyaan-pertanyaan menyentil.
Ya, iri..
Iri yg benar proporsinya bikin kita jadi kebelet pingin sama baiknya bahkan lebih dari orang yg kita iri-in. Tapi iri yg berlebih bikin kita lupa bahwa yg diberi sifatnya amanah. yg namanya amanah, cuma titipan, kapan Dia mau, Tuhan bisa ambil tanpa perlu permisi.
SEPATUTNYA, saya harus bersyukur
Karena….
Saya telah menemukan makna hakiki dari kebahagiaan, yaitu rasa SYUKUR yang teramat sangat. Rasa syukur yang terkadang kabur; tak terlihat di pandangan mata karena tertutupi prasangka dan ke-tidak-ber-syukur-an kita akan nikmat yang diberikanNya.
Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, ketika saya merasa iri dengan teman-teman sepermainan yang dimanjakan dengan mainan oleh orangtuanya. Justru, sebetulnya Allah tengah membelajarkan saya untuk menjadi anak yang mandiri, tidak selalu berpangku tangan dan terus menengadahkan tangan untuk memenuhi keperluan pribadi. Dan pemahaman itu telah tiba HARI INI…
Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saat saya merasa Tuhan tak adil dengan selalu “melemparkan” saya ke sekolah swasta. Justru, saat itu Allah tengah mempersiapkan hal yang jauh lebih besar, lebih indah, dan jauh lebih dahsyat. Allah menunjukkan jalan hidayahNya justru disaat saya terpuruk meratapi ke-tidak-lulusan saya di SPMB. Dan rasa syukur itu hadir tepat di akhir semester kedua kuliah yang saya jalani. Pemahaman sempurna itu telah saya genggam HARI INI…
Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saat saya sedemikian tak berarti, merasa kecil dan tak berguna. Di saat saya merasa oranglain justru lebih mampu membahagiakan kedua orangtua mereka dengan supply materi setiap bulan ke rekening orangtuanya ketimbang saya. Ketika itu lah, Allah memapah langkah saya untuk melihat “pintu” lain yang disana terlihat terang benderang kenyataan yang amat jauh dari apa yang saya lihat. Mereka tak sepenuhnya bahagia dengan memiliki gaji di atas 1 juta-an, bekerja di tempat yang bonafid, tinggal di kota besar. Semuanya semu. Ada banyak hal yang mereka terlantarkan meski itu semua terbayar dengan gaji dan kenyamanan hidup yang bisa dikaakan jauh dari cukup. Tapi, ada kebahagiaan hakiki yang tak mereka miliki. Pemahaman luar biasa itu telah saya dapatkan HARI INI…
Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, pada saat saya merasa sendiri, merasa “di-anak-tiri-kan’ oleh Allah, merasa sedemikian cemburu terhadap kondisi rekan-rekan yang terlebih dulu melepas masa lanjang bahkan telah memiliki momongan. Justru, Allah berbaik hati menjaga diri dan hati saya untuk tidak membagi cinta kepada selainNya. Allah begitu tahu kebutuhan saya untuk meluruskan niatan-niatan saya dalam melangkah, memfokuskan diri saya untuk mengoptimalkan potensi masa muda dan masa lajang dengan karya amal shaleh. Pemahaman berarti itu telah saya terima HARI INI…
Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saya telah menemukan jalan hidup yang begitu mendaki lagi sukar. Bersama-sama melangkah menuju Ridho-Nya. Menemukan makna kebahagian dan syukur yang hakiki dengan terus meniti jalan ini tanpa henti.
Sekarang, saya cuma iri banget pada beberapa hal: saya iri dengan rekan-rekan “seperjuangan” yang begitu hebat prestasi langkahnya, iri pada mereka yang begitu fokus terhadap tujuan dan cita-cita hidup mereka, iri pada mereka memiliki komitmen kuat, mengemban amanah hingga akhir hayat.

