CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sunday, November 18, 2012

Sepasang Senja


Jika kita masih muda, punya banyak waktu, punya kelapangan, maka terlibatlah mengurus sekitar. Apa saja. Ikutan ngajar TPA, ikutan bikin perpustakaan, ikutan menyekolahkan adik2, bibi2, mbak2 yg kerja di sekitar, membagikan sepatu bekas, baju2 bekas, bahkan ikutan ngurus posyandu. Dalam skala yg lebih besar, ikutan program mengajar ke pelosok2 misalnya, ikutan program2 kegiatan sosial, atau ikutan 
menyebarkan pemahaman baik, ide2 kebaikan.
Maka, jika kita melakukannya dgn niat tulus, Allah akan membalasnya dengan kebahagiaan yg tidak bisa dibeli. Dan efek positif paling simpel--kalau soal kebahagiaan ini terlalu abstrak, Allah akan membalasnya dgn membukakan pintu2 silaturahmi, pintu2 rezeki, pintu2 kesempatan, dan pintu2 pemahaman baik.

Tere Liye

Beberapa waktu ke belakang, saya begitu menyukai kutipan kalimat di atas yang saya sadur dari seorang Penulis Novel yang belakangan karya-karyanya menjadi “penghuni” baru perpustakaan mini saya.  Kembali ke kutipan di atas, banyak hal yang saya petik dari rentetan kalimat di atas yang kemudian saya gigit kuat-kuat sebagai landasan dalam melangkah.
Keinginan saya untuk berkontribusi bagi sekitar, khususnya untuk Islam membawa saya melanglangbuana ke berbagai kota yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya singgahi, meskipun cakupannya masih sekitaran Jawa Barat. Ada banyak harapan yang saya genggam manakala saya mulai melangkah menuju kota-kota tersebut. Harapan bahwa suatu saat nanti akan ada bibit-bibit generasi Islam yang lahir dan tumbuh ditempat dimana saya pernah berpijak.
Perjalanan menuju tempat-tempat baru itu menjadi perjalanan yang demikian meng-asyik-kan sekaligus mendebarkan.  Sebuah ke-asyik-an tersendiri ketika harus berdesak-desakkan di bus/elf yang berjejal bersama orang-orang baru dan tidak kita kenal. Sebuah kegembiraan yang tak terkatakan saat memandangi pemandangan menyejukkan sepanjang perjalanan. Sebuah ketakjuban luar biasa manakala menyaksikan orang-orang berbeda rupa namun dengan tujuan perjalanan yang sama saling bercengkrama meskipun saya yakin sebagian besar dari mereka tidaklah saling mengenal. Toleransi sebagai penumpang yang “senasib sepenanggungan” untuk memberikan kesempatan duduk bagi yang sedari tadi berdiri.
Seperti perjalanan saya kali ini, perjalanan untuk ke sekian kalinya ke sebuah kota yang terkenal dengan kecapnya; Majalengka. Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh 3-4 dari Bandung. Tapi tidak untuk hari ini. Perjalanan menjadi berlipat lebih lama dari biasanya, dikarenakan banyak hal termasuk macet yang mengular dari Bandung.
Satu hal yang tidak boleh terlupa ketika bepergian jauh adalah membawa satu atau beberapa buku yang akan menjadi teman paling setia dari gempuran rasa kantuk dan bosan selama perjalanan, dan ini sangat membantu. Setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan kemacetan, tak terasa elf yang saya tumpangi telah tiba di sebuah kota yang terkenal dengan tahu-nya; Sumedang. Disini, rasa kantuk sudah mulai menyergap ditambah macet yang kembali mengular di sekitaran Sumedang. Pun, buku yang saya bawa sudah dengan suksesnya saya lahap.
Mata yang sudah menuju ke kisaran 5 watt kembali dipaksa untuk terbuka ketika sang  kenek “memaksa” saya untuk bergeser dari tempat duduk yang saya tempati menepi ke arah jendela. Ternyata, “paksaan” itu cukup manjur membuat saya terbangun dan duduk manis untuk beberapa saat sampai saya tersadar ada ibu-ibu paruh baya yang layak saya sebut nenek duduk di samping saya. Dari perawakkannya, saya taksir usianya kira-kira 70 tahunan. Matanya berbinar seolah tengah mengabarkan pada sekeliling, termasuk saya, bahwa si nenek tengah berbahagia, namun entah karena apa.
Beberapa saat tak saya hiraukan kehadiran si nenek, karna rasa kantuk yang lagi-lagi merusak mood saya untuk “berpetualang”. Sampai si nenek menawarkan tahu yang ia beli dari pedagang asongan tak kenal lelah berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Dengan lambaian tangan dan gelengan kepala pertanda penolakan. Dengan senyum mengembang sembari memamerkan deretan giginya yang tinggal satu-satu si nenek memandangi saya.
Bade kamana neng?” tanya si nenek penuh semangat. “Bade ka Majalengka, Ma”, jawab saya tak kalah semangat. “Sareng saha neng?”, kembali ia bertanya. “Nyalira, Ma”, jawab saya lebih semangat. “Meni ludeungan si eneng mah”, ujarnya. Kali ini tanpa harus ada jawaban.
Si nenek masih saja asyik melahap tahu Sumedang-nya yang kini tinggal beberapa lagi. Namun, kali ini ia ditemani seorang kakek yang tak kalah ramahnya, yang kutebak sebagai suami si nenek. Ternyata benar, karena saat itu juga ia berseloroh mengenai dirinya pada saya tanpa diminta.
Masih asyik dengan tahu yang mereka habiskan bersama, hati saya terusik ingin bertanya namun saya urungkan, karena khawatir pertanyaan itu menjadi sesuatu hal yang lancang untuk ditanyakan. Namun, nyatanya tidak, karena lagi-lagi si kakek kembali membuka pembicaraan seolah tahu apa yang tengah saya pikirkan tentang mereka.
Singkat cerita, mereka bercerita mengenai kehidupan rumah tangga yang telah mereka jalani selama kurang lebih 50 tahun. Bercerita tentang anak cucu yang begitu mereka sayangi. Sampai pada satu momen dimana saya mulai memberanikan diri untuk bertanya akan sebuah pertanyaan yang sedari tadi saya simpan. “Ma sareng aki apanan tos lami nikahna nya, naha naon anu janten ceuceupeungan ma sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?” Keduanya kemudian tersenyum tanpa jawaban yang keluar dari lisan mereka.
Saya pun menghela nafas, takut-takut apa yang tadi saya tanyakan memanglah pertanyaan yang kurang sopan. Sampai kemudian, si nenek bercerita bahwa mereka menikah diawali dengan sebuah perjodohan yang di-seting sedemikian rupa oleh kedua orangtua mereka masing-masing. Tanpa pernah bersitatap, tidak saling mengenal apalagi saling berhubungan. Mereka dipertemukan seminggu sebelum pernikahan digelar.
Lalu apa yang menjadikan mereka setuju untuk kemudian mau bersatu dalam sebuah mahligai pernikahan? Jawabannya sederhana saja, saat itu mereka meyakini bahwa keputusan orangtua untuk menjodohkan mereka bukanlah sebuah tindakan tanpa alasan, melainkan untuk kebaikan mereka juga. Serta atas dasar bahwa tak ada orangtua yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada laki-laki yang tak baik. Atas dasar itulah, mereka kemudian menapaki hari-hari sebagai suami istri.
Kemudian saya pun kembali bertanya, apakah keduanya saling mencintai? Kali ini, mereka tertawa terbahak-bahak. Bukan mentertawakan pertanyaan saya, melainkan sebuah ekspresi atas pertanyaan yang mungkin akan membuat mereka kembali menggali memori masa lalu. “Tidak”, jawab si kakek. Rasa cinta itu bahkan tidak ada dan baru muncul ketika mereka sudah mengucapkan ijab kabul sebagai sepasang suami istri. Rasa cinta itu muncul dari proses dan keberanian keduanya untuk membangun biduk rumah tangga yang didasari rasa hormat dan keyakinan akan maksud orangtua.
Rasa cinta itu kian tumbuh subur menghiasai hari-hari mereka ketika satu persatu buah hati hadir di antara mereka. Namun, sayangnya rasa cinta itu hanya berlaku di awal-awal tahun pernikahan. Rentang 1-5 tahun pertama, rasa cinta itu masih mekar merona. Namun, setelah itu terasa hambar dan membosankan.
Semakin penasaran, saya pun kembali melontarkan pertanyaan tentang bagaimana keduanya menjalani hari-hari dalam pernikahan mereka jelang tahun ke-6 dan seterusnya ditambah dengan hadirnya "anggota" baru di tengah-tengah mereka. Jawaban pun kembali meluncur, yaitu komitmen. Ketika rasa cinta sudah semakin memudar, rasa bosan kian menjalar, maka ingat akan komitmen yang pernah diucapkan di depan penghulu menjadi obat yang paling mujarab untuk mengatasinya. Ketika kehidupan ekonomi mereka turun naik, disaat bersamaan anak-anak mereka membutuhkan biaya hidup yang tak sedikit, maka komitmen mereka untuk menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak mereka menjadi amunisi paling mutakhir yang membangkitkan dua kali lipat semangat untuk tetap bertahan. Disaat rasa bosan menghinggapi suami/istri untuk melayani dan mencukupi kebutuhan pasangannya, maka kembali lagi komitmen sebagai istri/suami yang baik bagi pasangannya menjadi pengingat terbaik. Dan di atas segalanya, komitmen mereka terhadap Allah untuk menjadi hamba-hamba terbaik yang akan membawa anak, istri di jalan haq, melahirkan generasi-generasi Islam yang tangguh yang dilahirkan dari rahim ibu yang tangguh pula menjadi satu angin segar yang meniupkan ruh-ruh semangat dalam jiwa untuk terus melangkah meski aral dan rintang menghadang. Subhanallah.


Tanyakanlah pada orang2 yang telah menikah dengan bahagia di atas 20 tahun (boleh jadi orang tua kalian termasuk). Apa yang membuat mereka langgeng hingga selama itu, dan akan terus langgeng? Apakah karena (a) cinta, (b) komitmen atau karena (c) saling percaya.
Mereka bisa memberikan jawaban yang penuh hikmah.

Tere Liye


Maka, jawaban penuh hikmah itu pun telah saya dapatkan dari sepasang suami istri lanjut usia yang menjadi teman seperjalanan saya dari Bandung-Majalengka. Sebuah pemahaman sederhana dalam memahami sebuah pernikahan. Tanpa banyak kata, tapi terbukti dalam langkah dan kualitas hidup yang telah mereka gapai, meskipun untuk ukuran dunia mereka kalah telak. Sekali lagi, satu pemahaman baik telah Allah hadiahkan dari perjalanan yang telah dilalui. Sebuah kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat sangat atas rizki pemahaman dan rizki silaturahim yang menguatkan. Hingga ingin diri ini suatu saat bertemu dengan pasangan hidup sekufu yang akan menjadi teman hidup, teman seperjalanan menapaki hari-hari penuh onak dan duri, sahabat sejati yang akan membersamai hingga akhirat kelak. Aamiin.

Kosakata:
Bade kamana neng?”= mau kemana neng?
 “Bade ka Majalengka, Ma”= mau ke Majalengka Ma
Ema/Ma= panggilan untuk nenek, ibu
 “Sareng saha neng?” =sama siapa neng?
Nyalira, Ma”= sendirian Ma
 “Meni ludeungan si eneng mah”= si eneng berani
Ma sareng aki apanan tos lami nikahna nya, naha naon anu janten ceuceupeungan ma sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?” = Ma sareng Aki kan sudah lama menikah, hal apa yang dipegang selama ini hingga bisa melalui masa-masa pernikahan selama 50 tahun

Bandung, 18 November 2012

Sunday, June 17, 2012

Cemburu Menguras Hati

Dahulu saya iri melihat teman sepermainan semasa kecil yang begitu dimanjakan dengan berbagai jenis mainan oleh orangtua mereka, bikin saya ngerasa “berbeda”. Setelah menginjak bangku SMP, SMA bahkan mengenyam bangku kuliah rasa iri yang lain bertubi-tubi menghampiri. Terlebih melihat rekan-rekan “seperjuangan” yang selalu sekolah di sekolah negeri, sedangkan saya selalu sekolah di “luar negeri” alias swasta.

Setelah saya mendapatkan gelar sarjana, saya iri liat temen-temen saya habis lulus dapet kerjaan bonafid, pegang gaji lebih dari sejuta dan hidup di kota-kota besar. Sementara saya terdampar jadi guru dengan gaji yang jauh dari kata cukup, bikin saya jadi kebelet pingin punya kerjaan keren juga: jadi guru yang “waras” dan ya, saya memang dapat pekerjaan itu, sekalipun itu semua harus saya bayar tunai dengan ketidaknyamanan dan rasa bersalah yang teramat sangat.



Itu pilihan saya, memang, seperti juga halnya ketika akhirnya saya undur diri dari pekerjaan ini dan mengambil tawaran yang lain yang lebih “menarik’ dari sudut pandang saya yang aneh. Saya emang masih tetep iri liat temen-temen berstatus pegawai 1jt-an..tapi rasa irinya semakin hilang ketika saya ikhlas jalani aktivitas saya, saya cinta mengajar, saya senang anak-anak, saya bahagia lihat mereka amat sangat antusias ketika saya yg mengajar.



Ketika saya sudah merasa tenang dengan pekerjaan ini, saya kembali dibuat iri karena melihat teman-teman kuliah saya, teman-teman mengajar saya, pada menikah! oh Tuhan, saya ngga akan se-iri ini kalau saja pemahaman baik mengenai proses hidup ini datang lebih cepat. Apalagi harus berhadapan dengan orang-orang picik yang berpikiran sempit yang tak henti-hentinya “merongrong” kenyamanan dengan pertanyaan-pertanyaan menyentil.

Ya, iri..

Iri yg benar proporsinya bikin kita jadi kebelet pingin sama baiknya bahkan lebih dari orang yg kita iri-in. Tapi iri yg berlebih bikin kita lupa bahwa yg diberi sifatnya amanah. yg namanya amanah, cuma titipan, kapan Dia mau, Tuhan bisa ambil tanpa perlu permisi.


SEPATUTNYA, saya harus bersyukur
Karena….
Saya telah menemukan makna hakiki dari kebahagiaan, yaitu rasa SYUKUR yang teramat sangat. Rasa syukur yang terkadang kabur; tak terlihat di pandangan mata karena tertutupi prasangka dan ke-tidak-ber-syukur-an kita akan nikmat yang diberikanNya.

Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, ketika saya merasa iri dengan teman-teman sepermainan yang dimanjakan dengan mainan oleh orangtuanya. Justru, sebetulnya Allah tengah membelajarkan saya untuk menjadi anak yang mandiri, tidak selalu berpangku tangan dan terus menengadahkan tangan untuk memenuhi keperluan pribadi. Dan pemahaman itu telah tiba HARI INI…

Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saat saya merasa Tuhan tak adil dengan selalu “melemparkan” saya ke sekolah swasta. Justru, saat itu Allah tengah mempersiapkan hal yang jauh lebih besar, lebih indah, dan jauh lebih dahsyat. Allah menunjukkan jalan hidayahNya justru disaat saya terpuruk meratapi ke-tidak-lulusan saya di SPMB. Dan rasa syukur itu hadir tepat di akhir semester kedua kuliah yang saya jalani. Pemahaman sempurna itu telah saya genggam HARI INI…

Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saat saya sedemikian tak berarti, merasa kecil dan tak berguna. Di saat saya merasa oranglain justru lebih mampu membahagiakan kedua orangtua mereka dengan supply materi setiap bulan ke rekening orangtuanya ketimbang saya. Ketika itu lah, Allah memapah langkah saya untuk melihat “pintu” lain yang disana terlihat terang benderang kenyataan yang amat jauh dari apa yang saya lihat. Mereka tak sepenuhnya bahagia dengan memiliki gaji di atas 1 juta-an, bekerja di tempat yang bonafid, tinggal di kota besar. Semuanya semu. Ada banyak hal yang mereka terlantarkan meski itu semua terbayar dengan gaji dan kenyamanan hidup yang bisa dikaakan jauh dari cukup. Tapi, ada kebahagiaan hakiki yang tak mereka miliki. Pemahaman luar biasa itu telah saya dapatkan HARI INI…

Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, pada saat saya merasa sendiri, merasa “di-anak-tiri-kan’ oleh Allah, merasa sedemikian cemburu terhadap kondisi rekan-rekan yang terlebih dulu melepas masa lanjang bahkan telah memiliki momongan. Justru, Allah berbaik hati menjaga diri dan hati saya untuk tidak membagi cinta kepada selainNya. Allah begitu tahu kebutuhan saya untuk meluruskan niatan-niatan saya dalam melangkah, memfokuskan diri saya untuk mengoptimalkan potensi masa muda dan masa lajang dengan karya amal shaleh. Pemahaman berarti  itu telah saya terima HARI INI…

Seharusnya saya BERSYUKUR..
KARENA, saya telah menemukan jalan hidup yang begitu mendaki lagi sukar. Bersama-sama melangkah menuju Ridho-Nya. Menemukan makna kebahagian dan syukur yang hakiki dengan terus meniti jalan ini tanpa henti.

Sekarang, saya cuma iri banget pada beberapa hal: saya iri dengan rekan-rekan “seperjuangan” yang begitu hebat prestasi langkahnya, iri pada mereka yang begitu fokus terhadap tujuan dan cita-cita hidup mereka, iri pada mereka memiliki komitmen kuat, mengemban amanah hingga akhir hayat.

Tuesday, April 17, 2012

Episode Penjelajahan Hati Part 1

Di hadapanku, tak jauh dari tempatku berdiri kini nampak sepasang anak manusia duduk bersisian. Si wanita menangis, si pemuda menenangkannya dengan penuh kelembutan dan kata-kata mesra. Tak dihiraukannya “keluhan” dan tatapan sinis orang disekeliling mereka. 

Kulemparkan sejenak pandanganku ke sudut lain yang menurutku lebih menarik. Hujan yang kian deras mengguyur bumi sore ini membuatku harus berlama-lama menikmati pemandangan di tempat ini. Jalanan yang macet pun tak terelakkan, aroma tanah basah akibat hujan pun kian merebak menusuk indera penciuman.

Kembali menatap kedua insan yang kini entah tengah berbincang apa. Nampak si wanita sudah menyelesaikan tangisannya sembari sesekali tersenyum penuh makna pada si pemuda. Tak dinyana, si pemuda 'menghadiahi' kecupan entah dibagian mana. Ku palingkan muka. Jalanan masih saja mengular tak terurai. Pikiranku ruwet, seolah waktu melambat dan tak bersahabat.

Kualihkan perhatianku ke bangunan tua di seberang sana. Arsitektur khas ala Eropa yang tetap kokoh berdiri meski kota ini telah berubah menjadi seribu wajah. Pohon-pohon rindang masih menghiasi pelataran tempat ini. Wajah-wajah letih para pembelajar sesekali muncul di ambang gerbang bangunan ini. 

Tepat di belakang tempatku berdiri kini berdiri kokoh sebuah mesjid yang nampak sudah sepi dikunjungi jamaah. Di pelataran mesjid tak ada aktivitas berarti, yang terlihat hanya beberapa pedagang kaki lima yang tengah tertidur lelap "menelantarkan" dagangan mereka. 

Kupercepat langkahku menuju pintu gerbang bangunan di seberangku ini. Kulayangkan pandangku menjelajah sudut demi sudut, patung gajah itu, tempat duduk bercat hijau itu, pohon-pohon itu, pagar itu...ah mereka seolah membawaku melintasi jejak ruang dan waktu. Dari tempatku bersandar kini seiring laju pikirku yang kian tak menentu. Melintasi setiap episode hidup yang kian hari kian menemukan alurnya. Membuat hidupku kian riuh dan berwarna. Tapi, entah kenapa hidupku dipenuhi kilat semata. Meski aku tau itu bukan pertanda hujan...ah dasar hati, lompatannya tak pernah bisa diduga! 

*episode penjelajahan hati part 1
Aku, Al-Furqon dan Mesjid Salman ITB
17/04/2012

Friday, March 30, 2012

Kenapa ini dan kenapa itu?

Masih seperti kemarin, persis seperti kemarin lusa, serupa  malam-malam sebelumnya. Tak ada yang berubah. Sama. Jujur kukatakan, saat-saat seperti inilah ide cemerlang menurut versi dan keyakinanku akan muncul dan mengalir deras memenuhi cawan penampungan dahaga menulisku. Sebut saja aku aneh. Aku begitu menikmati jalinan rahasia malam yang begitu damai. Tak ada suara bingar yang biasa kudengar di siang bolong, atau pemandangan-pemandangan lain yang tak bisa kusaksikan di kala malam.

Ya, sekali lagi aku sangat menikmati suasana malam. Sibuk menari di atas keyboard laptop kesayangan. Mengalunkan rententan kata yang kian menemukan alurnya untuk berhenti. Lancar, lepas, tanpa kendala. Bahkan, samalaman aku pernah bisa membuat lima tulisan dengan mudahnya. Entahlah, seketika ide itu muncul tatkala suasana malam yang hening, kesendirian di sudut kamar, lampu yang temaram bahkan tak jarang hanya ditemani cahaya bulan membuat semua keindahan malam begitu terasa.

Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Ya, seperti telah kujelaskan sebelumnya, aku bahkan tak bisa beranjak pergi dari tempatku duduk. Mataku masih begitu segar untuk diistirahatkan. Rasa kantuk seolah menjauh entah kemana. Padahal, jelas sekali esok pagi tepat pukul tujuh harus sudah berangkat menuju sekolah tempatku mengajar. Ternyata, hal itu lebih sering  tak ku hiraukan. Keinginanku untuk menumpahkan segala yang terlintas dalam diri jauh lebih menggoda ketimbang tidur. 

Di penghujung malam, terbersit beberapa pertanyaan beberapa kawan. Pertanyaan menggelitik sekaligus “sangat serius” itu kembali hadir. Tujuh tahun terakhir, tepatnya saat duduk di bangku kuliah, aku memiliki banyak nickname atau sering kudeklarasikan sebagai nama beken di kalangan sahabat. Ya, nama beken; nama yang cenderung lebih dikenal ketimbang nama asliku sendiri.

Ada tiga “nama beken” yang mewakili tiga fase berbeda dalam perjalanan hidupku. “Mereka” adalah Mieriel, Akai Ito dan Shadiqa Thahira. 

What is Mieriel?

Pertama, ijinkan aku tertawa sejenak sebelum akhirnya kuceritakan awal mula nama itu begitu melekat dalam diri ini. Jujur, di antara tiga nama beken itu, nama Mieriel lah yang paling populer, paling alay en paling gak banget dech. Mieriel sendiri sebetulnya merupakan akronim dari dua nama yang begitu dipaksakan untuk “serasi”. Ya serasi. Pasalnya, kala itu, jaman SMU aku pernah begitu mengagumi; lebih tepatnya tergila-gila dengan frontman band Peterpan. Siapakah dia? Yup! Ariel Peterpan. Saking kreatifnya, diciptakanlah nama yang mudah diingat dan “nyentrik” di kalangan sahabat Peterpan (sebutan bagi para pengagum Peterpan). Setelah berkutat dengan nama-nama yang super duper “ok” akhirnya terpilihlah Mieriel yang tak lain gabungan nama Tami dan Ariel. 

Tak dinyana, nama ini akhirnya terus melekat dan semakin “populer” di kalangan para sahabat dekat hingga bangku kuliah; hingga akhirnya nama ini kian memudar ke-populer-an nya seiring kasus yang menimpa sang biduan dan serta kesadaranku bahwa selama ini telah salah memilih idola.

Kenapa Shadiqa Thahira?

Nama ini kemudian menjadi pengganti seiring “kemerosotan” nama Mieriel. Shadiqa Thahira; nama yang begitu kusukai sejak semester dua kuliahku. Saat itu, merupakan masa peralihan yang begitu penting dalam hidup ini. Fase dimana pencarian jati diri, fase mencari jalan hidup, semuanya ada di masa kuliah. Saat itu, aku tengah asyik “berkencan” dengan sebuah buku di selasar mesjid kampus. Nama ini, kutemukan di Sirah Sahabat Rasulullah SAW; kajian mengenai perjalanan da’wah dan hidup para sahabat dan sahabiyah Rasulullah SAW.  Disana, diantara ratusan bahkan ribuan nama berbahasa Arab aku menemukan sebuah nama yang hingga detik ini sangat kugilai. Nama itu SHADIQA THAHIRA.

Shadiqa Thahira sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada putri Rasulullah SWA, Fatimah Az-Zahra. Shadiqa sendiri berasal dari kara Shiddiq yang berarti benar/kebenaran, Thahira berasal dari kata thaharoh yang bermakna suci/kesucian.

Aku memaknai nama itu dengan caraku sendiri. Sebuah motivasi sekaligus harapan di masa yang akan datang bahwa kebenaran dan kesucian jalan hidup yang telah kutemukan akan tetap bisa kujaga hingga akhir hayat. Tidak hanya itu, bahwa setiap ucapan, perbuatan dan langkah pun senantiasa ingin dalam rel yang benar. Menjaga kehormatan dan kesucian diri sebagai seorang muslimah.

Apa itu Akai Ito?

Nama terakhir ini merupakan nama yang memiliki filosofi mendalam, setidaknya untuk ukuran dan versiku sendiri. Diawali dengan kepenatan sekaligus putus asa yang mendera kala menyusun skripsi. Pelarian sekaligus ”selingkuhan” yang mencerahkan kala itu ialah dengan menonton dorama Korea dan Jepang. Hingga satu hari, ketika sibuk menjelajahi lapak DVD bajakan dekat kampus, tanpa sengaja kutemukan sebuah judul dorama Jepang yang berjudul Akai Ito. Ternyata ungkapan don’t judge a book by its cover khususnya dalam masalah memilih film mana yang layak tonton, tidaklah berlaku. Bagaimana tidak, hampir semua dorama yang pernah kutonton hanya kubeli dengan diawali ketertarikan terhadap cover DVD-nya. Dan sering tidak mengecewakan. Selang beberapa hari setelah menonton dorama itu, mendadak keinginan meneruskan skripsi yang sempat terlalaikan kembali hadir (lebay). Efek sampingnya ternyata lumayan bombastis.  
Akai Ito sendiri dalam bahasa Jepang bermakna The Red String of Destiny. bagaimana masa lalu dan masa depan memiliki kaitan yang sangat erat dan dihubungkan dengan benang merah yang dinamakan takdir.
" Tuhan telah membuat kau dan aku terpaut lewat benang merah yang panjang... dalam sebuah ikatan takdir tak terlihat dan tanpa peta... Hingga nanti aku akan jatuh cinta saat bertemu denganmu... ".


Tuesday, March 27, 2012

Generasi-generasi Impian

Siang itu, seperti biasa kudapati pemandangan serupa; kedua anak kecil itu lincah berlarian, tawa mereka lepas seolah tanpa beban serta senyum yang sesekali mengembang tatkala kuucapkan salam.
“Assalamualaikum”, sahutku
Serta merta mereka menghampiri, memeluk, mencium tanganku dan menjawab “Waalaikumsalam bibi”.
Sambutan luar biasa yang selalu kurindukan saat jarak begitu jauh memisahkan kehangatan ini.
Tak lama, bocah lelaki yang kini memiliki panggilan “Aa” mengamit kedua lenganku, pertanda ia mempersilakan aku masuk ke “istana-nya”. Di tengadahkan tangannya, kemudian menagih janjiku minggu sebelumnya, “bibi, katanya mau ngasih bros angry bird”. “Astaghfirulloh, aa maaf bibi lupa”, jawabku mantap disertai ekspresi penyesalan yang meyakinkan. Tak butuh lama, ia kemudian menyahut, “bibi, janji itu harus ditepati! Nanti Allah marah lho”. Kubalas dengan kecupan dipipi chubby-nya  seraya memberikan plastik berisi  bros angry bird yang kujanjikan. Ia pun tertawa riang dan mengecup kedua pipiku, “makasih bibi, Allah-nya gak jadi marah”. Kami pun larut dalam tawa renyah.

Satu kali, aku pernah iseng bertanya pada kedua bocah itu, “aa sama kakak cita-citanya mau jadi apa?”. Masih dengan es krim di tangan mereka pun menjawab, “kakak pengen kayak ummi sama abi” sang adik pun menyahut, “aa juga mau kayak ummi sama abi”.
Penasaran dengan jawaban mereka, akhirnya pertanyaan lanjutan terlontar dariku “memangnya kenapa kok mau kayak ummi sama abi?”
“Pokoknya pengen kayak abi dan ummi!”, ucap mereka bersamaan.


Apa ya rahasianya?
Seringkali dalam diamku, sangat teliti kuperhatikan aktivitas kedua orangtua mereka yang memiliki aktivitas mulia di luar sana, yaitu berda’wah.  Meskipun waktu yang orangtua mereka miliki hanya sedikit untuk bisa membersamai kedua bocah itu bermain atau sekedar bersenda gurau di sela waktu menjelang tidur, namun persepsi bocah-bocah itu terhadap aktivitas kedua orangtuanya begitu positif.
Pun, ketika kusaksikan langsung betapa persepsi orangtua-nya terhadap aktivitas yang mereka lakukan begitu positif. Mereka berangkat meninggalkan anak-anaknya dengan cahaya semangat di wajahnya, ruh yang menggebu dalam langkahnya, dan sunggingan senyum penuh kelapangan. Tak hanya ucapan dan langkah, bahkan sorot mata keduanya pun menyiratkan semangat yang menyala, Cahaya itu begitu dahsyat terasa hingga orang di sekitar mereka. Hingga, seringkali kudapati kedua bocah itu melepas kepergian kedua orangtuanya dengan tatapan yang menyejukkan dan harapan kelak bagi keduanya."Kakak, aa, ummi sama abi pergi dulu ya sayang".
Maka, di lain kesempatan kusaksikan gambaran lain dari seorang anak yang memiliki orangtua dengan kesibukan yang sama seperti yang telah kugambarkan sebelumnya. Miris, ketika kuutarakan pertanyaan serupa, ia menjawab dingin, “kakak gak mau kayak ummi abi”.
Subhanallah, dua sisi yang bertolak belakang. Ah, tak berani rasanya diri ini menilai terlalu jauh. Namun, satu hal yang menjadi pelajaran berharga bagiku, ialah bagaimana menjadi orangtua tidaklah semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan, “menjadikan rumahtangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam”. Tentu saja, bukan da’wahnya yang bermasalah, namun cara kita menghadapi setiap problematika yang ada.
Ah, rasanya semakin jauh jalan kesana…………..
*27 Maret 2012
Renungan atas salah satu bab buku karya Salim A. Filah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim disertai beberapa penggalan kisah dalam perjalanan hidup yang tengah kujalani

Sunday, March 25, 2012

Teruntuk Pejantan Tangguh, Suamiku


Teruntuk lelaki yang kelak kuakui sebagai suami. Teruntuk lelaki tangguh yang kelak akan menghadap kedua orangtuaku untuk meminangku dengan ikatan dunia akherat; mitsaqan ghaliza. Satu perjanjian yang kuat, satu amanah telah di ambil dari Pencipta manusia, untuk menjadikan ikatan ini satu hakikat yang diberkahi guna menjemput Ridho-Nya. Menggenapkan setengah Diin, menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.

Suamiku, jika kelak kau bertanya mengapa aku menerima pinanganmu. Maka, tak ada jawaban lain selain karena ikhtiar dan bukti ta’atku akan perintahNya.  Jalan bagiku untuk belajar ikhlas dan rela menerima ketetapanNya, karena ku tahu aku dan kau sama-sama tak pernah berpikir bahwa engkaulah sang pelengkap jiwa di kemudian hari begitupun engkau yang sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kelak wanita yang akan kau sebut istri adalah aku.

Wahai lelaki yang kelak menjadi bapak dari anak-anakku, jika kemudian kau mendapati aku bukanlah istri yang shalehah. Maka, tegurlah aku dengan cara yang ma’ruf. Tegur aku jika aku enggan keluar rumah untuk “bergerak”. Marahi aku dengan cara yang ma’ruf jika mendapatiku berdiam diri dan terlena dengan kesibukkan rumah tangga.

Wahai lelaki yang kelak menjadi pemimpin rumah tanggaku, ku tahu kau takkan melarangku untuk “berkarir” di luar rumah. Karena di luar rumah lah kau dan aku mampu mengepakkan “sayap” kita lebar-lebar.

Suamiku, aku tahu bahwa rumah tangga kita kelak bukanlah rumah tangga yang didasari cinta sebelum pernikahan. Aku tahu, jika rumah tangga kita didasari keyakinan bahwa Allah akan menyandingkan kita dengan pasangan yang sepadan dalam hal gerak, iman dan karya. Kuharap, cinta dalam diriku maupun dirimu akan bertumbuh setelah pernikahan.

Untukmu lelaki hebat yang kelak mendampingi langkahku, ku tahu rumah tangga kita bukanlah rumah tangga romantis se-romantis cerita-cerita cinta dalam sebuat novel ataupun film. Ku tahu, kita bukanlah pasangan yang akan selalu saling menemani kemanapun kau ataupun aku pergi. Ku tahu, engkau takkan selalu ada di rumah. Bahkan, aku akan merasakan ketidakhadiranmu di rumah ini berminggu-minggu. Bisa jadi, aku lah yang akan sering mendengar rengekan dan tangisan serta tawa ceria anak-anak kita.

Suamiku, engkau pun tahu, kau takkan mendapati aku selalu ada di rumah. Menyambutmu dengan senyum terindah, berhias dengan tampilan terbaik menyambut kedatanganmu. Bisa jadi, kau hanya menemukan rumah dalam keadaan kosong bahkan tanpa ada sedikitpun hidangan yang kusiapkan untukmu.

Karena, saat kau telah menyatakan keinginamu meminangku dan aku bersedia menerima pinanganmu. Di saat itu pulalah, kita telah sama-sama memahami bahwa aku dan kau akan mengalami semua hal yang aku utarakan di atas.

*Menyiapkan diri menantikan kedatanganmu kelak, sementara ini kuisi dengan terus berusaha mem-baikkan dan memantaskan diri di hadapanNya. Karena aku ingin sepadan denganmu dalam hal iman, gerak dan karya di hadapanNya. Hingga, kelak aku bisa menjadi teman seperjalanan dan pendukung langkahmu….

***corat-coret diiringi Nasyid DeHearty-Permata yang dicari***

Bandung, 25 Maret 2012