Siang itu, seperti biasa kudapati pemandangan serupa; kedua anak kecil itu lincah berlarian, tawa mereka lepas seolah tanpa beban serta senyum yang sesekali mengembang tatkala kuucapkan salam.
“Assalamualaikum”, sahutku
Serta merta mereka menghampiri, memeluk, mencium tanganku dan menjawab “Waalaikumsalam bibi”.
Sambutan luar biasa yang selalu kurindukan saat jarak begitu jauh memisahkan kehangatan ini.
Tak lama, bocah lelaki yang kini memiliki panggilan “Aa” mengamit kedua lenganku, pertanda ia mempersilakan aku masuk ke “istana-nya”. Di tengadahkan tangannya, kemudian menagih janjiku minggu sebelumnya, “bibi, katanya mau ngasih bros angry bird”. “Astaghfirulloh, aa maaf bibi lupa”, jawabku mantap disertai ekspresi penyesalan yang meyakinkan. Tak butuh lama, ia kemudian menyahut, “bibi, janji itu harus ditepati! Nanti Allah marah lho”. Kubalas dengan kecupan dipipi chubby-nya seraya memberikan plastik berisi bros angry bird yang kujanjikan. Ia pun tertawa riang dan mengecup kedua pipiku, “makasih bibi, Allah-nya gak jadi marah”. Kami pun larut dalam tawa renyah.
Satu kali, aku pernah iseng bertanya pada kedua bocah itu, “aa sama kakak cita-citanya mau jadi apa?”. Masih dengan es krim di tangan mereka pun menjawab, “kakak pengen kayak ummi sama abi” sang adik pun menyahut, “aa juga mau kayak ummi sama abi”.
Penasaran dengan jawaban mereka, akhirnya pertanyaan lanjutan terlontar dariku “memangnya kenapa kok mau kayak ummi sama abi?”
“Pokoknya pengen kayak abi dan ummi!”, ucap mereka bersamaan.
Apa ya rahasianya?
Seringkali dalam diamku, sangat teliti kuperhatikan aktivitas kedua orangtua mereka yang memiliki aktivitas mulia di luar sana, yaitu berda’wah. Meskipun waktu yang orangtua mereka miliki hanya sedikit untuk bisa membersamai kedua bocah itu bermain atau sekedar bersenda gurau di sela waktu menjelang tidur, namun persepsi bocah-bocah itu terhadap aktivitas kedua orangtuanya begitu positif.
Pun, ketika kusaksikan langsung betapa persepsi orangtua-nya terhadap aktivitas yang mereka lakukan begitu positif. Mereka berangkat meninggalkan anak-anaknya dengan cahaya semangat di wajahnya, ruh yang menggebu dalam langkahnya, dan sunggingan senyum penuh kelapangan. Tak hanya ucapan dan langkah, bahkan sorot mata keduanya pun menyiratkan semangat yang menyala, Cahaya itu begitu dahsyat terasa hingga orang di sekitar mereka. Hingga, seringkali kudapati kedua bocah itu melepas kepergian kedua orangtuanya dengan tatapan yang menyejukkan dan harapan kelak bagi keduanya."Kakak, aa, ummi sama abi pergi dulu ya sayang".
Maka, di lain kesempatan kusaksikan gambaran lain dari seorang anak yang memiliki orangtua dengan kesibukan yang sama seperti yang telah kugambarkan sebelumnya. Miris, ketika kuutarakan pertanyaan serupa, ia menjawab dingin, “kakak gak mau kayak ummi abi”.
Subhanallah, dua sisi yang bertolak belakang. Ah, tak berani rasanya diri ini menilai terlalu jauh. Namun, satu hal yang menjadi pelajaran berharga bagiku, ialah bagaimana menjadi orangtua tidaklah semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan, “menjadikan rumahtangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam”. Tentu saja, bukan da’wahnya yang bermasalah, namun cara kita menghadapi setiap problematika yang ada.
Ah, rasanya semakin jauh jalan kesana…………..
*27 Maret 2012
Renungan atas salah satu bab buku karya Salim A. Filah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim disertai beberapa penggalan kisah dalam perjalanan hidup yang tengah kujalani

No comments:
Post a Comment