Teruntuk lelaki yang kelak kuakui sebagai suami. Teruntuk lelaki tangguh yang kelak akan menghadap kedua orangtuaku untuk meminangku dengan ikatan dunia akherat; mitsaqan ghaliza. Satu perjanjian yang kuat, satu amanah telah di ambil dari Pencipta manusia, untuk menjadikan ikatan ini satu hakikat yang diberkahi guna menjemput Ridho-Nya. Menggenapkan setengah Diin, menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.
Suamiku, jika kelak kau bertanya mengapa aku menerima pinanganmu. Maka, tak ada jawaban lain selain karena ikhtiar dan bukti ta’atku akan perintahNya. Jalan bagiku untuk belajar ikhlas dan rela menerima ketetapanNya, karena ku tahu aku dan kau sama-sama tak pernah berpikir bahwa engkaulah sang pelengkap jiwa di kemudian hari begitupun engkau yang sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kelak wanita yang akan kau sebut istri adalah aku.
Wahai lelaki yang kelak menjadi bapak dari anak-anakku, jika kemudian kau mendapati aku bukanlah istri yang shalehah. Maka, tegurlah aku dengan cara yang ma’ruf. Tegur aku jika aku enggan keluar rumah untuk “bergerak”. Marahi aku dengan cara yang ma’ruf jika mendapatiku berdiam diri dan terlena dengan kesibukkan rumah tangga.
Wahai lelaki yang kelak menjadi pemimpin rumah tanggaku, ku tahu kau takkan melarangku untuk “berkarir” di luar rumah. Karena di luar rumah lah kau dan aku mampu mengepakkan “sayap” kita lebar-lebar.
Suamiku, aku tahu bahwa rumah tangga kita kelak bukanlah rumah tangga yang didasari cinta sebelum pernikahan. Aku tahu, jika rumah tangga kita didasari keyakinan bahwa Allah akan menyandingkan kita dengan pasangan yang sepadan dalam hal gerak, iman dan karya. Kuharap, cinta dalam diriku maupun dirimu akan bertumbuh setelah pernikahan.
Untukmu lelaki hebat yang kelak mendampingi langkahku, ku tahu rumah tangga kita bukanlah rumah tangga romantis se-romantis cerita-cerita cinta dalam sebuat novel ataupun film. Ku tahu, kita bukanlah pasangan yang akan selalu saling menemani kemanapun kau ataupun aku pergi. Ku tahu, engkau takkan selalu ada di rumah. Bahkan, aku akan merasakan ketidakhadiranmu di rumah ini berminggu-minggu. Bisa jadi, aku lah yang akan sering mendengar rengekan dan tangisan serta tawa ceria anak-anak kita.
Suamiku, engkau pun tahu, kau takkan mendapati aku selalu ada di rumah. Menyambutmu dengan senyum terindah, berhias dengan tampilan terbaik menyambut kedatanganmu. Bisa jadi, kau hanya menemukan rumah dalam keadaan kosong bahkan tanpa ada sedikitpun hidangan yang kusiapkan untukmu.
Karena, saat kau telah menyatakan keinginamu meminangku dan aku bersedia menerima pinanganmu. Di saat itu pulalah, kita telah sama-sama memahami bahwa aku dan kau akan mengalami semua hal yang aku utarakan di atas.
*Menyiapkan diri menantikan kedatanganmu kelak, sementara ini kuisi dengan terus berusaha mem-baikkan dan memantaskan diri di hadapanNya. Karena aku ingin sepadan denganmu dalam hal iman, gerak dan karya di hadapanNya. Hingga, kelak aku bisa menjadi teman seperjalanan dan pendukung langkahmu….
***corat-coret diiringi Nasyid DeHearty-Permata yang dicari***
Bandung, 25 Maret 2012

No comments:
Post a Comment