Masih seperti kemarin, persis seperti kemarin lusa, serupa malam-malam sebelumnya. Tak ada yang berubah. Sama. Jujur kukatakan, saat-saat seperti inilah ide cemerlang menurut versi dan keyakinanku akan muncul dan mengalir deras memenuhi cawan penampungan dahaga menulisku. Sebut saja aku aneh. Aku begitu menikmati jalinan rahasia malam yang begitu damai. Tak ada suara bingar yang biasa kudengar di siang bolong, atau pemandangan-pemandangan lain yang tak bisa kusaksikan di kala malam.
Ya, sekali lagi aku sangat menikmati suasana malam. Sibuk menari di atas keyboard laptop kesayangan. Mengalunkan rententan kata yang kian menemukan alurnya untuk berhenti. Lancar, lepas, tanpa kendala. Bahkan, samalaman aku pernah bisa membuat lima tulisan dengan mudahnya. Entahlah, seketika ide itu muncul tatkala suasana malam yang hening, kesendirian di sudut kamar, lampu yang temaram bahkan tak jarang hanya ditemani cahaya bulan membuat semua keindahan malam begitu terasa.
Ya, sekali lagi aku sangat menikmati suasana malam. Sibuk menari di atas keyboard laptop kesayangan. Mengalunkan rententan kata yang kian menemukan alurnya untuk berhenti. Lancar, lepas, tanpa kendala. Bahkan, samalaman aku pernah bisa membuat lima tulisan dengan mudahnya. Entahlah, seketika ide itu muncul tatkala suasana malam yang hening, kesendirian di sudut kamar, lampu yang temaram bahkan tak jarang hanya ditemani cahaya bulan membuat semua keindahan malam begitu terasa.
Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Ya, seperti telah kujelaskan sebelumnya, aku bahkan tak bisa beranjak pergi dari tempatku duduk. Mataku masih begitu segar untuk diistirahatkan. Rasa kantuk seolah menjauh entah kemana. Padahal, jelas sekali esok pagi tepat pukul tujuh harus sudah berangkat menuju sekolah tempatku mengajar. Ternyata, hal itu lebih sering tak ku hiraukan. Keinginanku untuk menumpahkan segala yang terlintas dalam diri jauh lebih menggoda ketimbang tidur.
Di penghujung malam, terbersit beberapa pertanyaan beberapa kawan. Pertanyaan menggelitik sekaligus “sangat serius” itu kembali hadir. Tujuh tahun terakhir, tepatnya saat duduk di bangku kuliah, aku memiliki banyak nickname atau sering kudeklarasikan sebagai nama beken di kalangan sahabat. Ya, nama beken; nama yang cenderung lebih dikenal ketimbang nama asliku sendiri.
Ada tiga “nama beken” yang mewakili tiga fase berbeda dalam perjalanan hidupku. “Mereka” adalah Mieriel, Akai Ito dan Shadiqa Thahira.
What is Mieriel?
Pertama, ijinkan aku tertawa sejenak sebelum akhirnya kuceritakan awal mula nama itu begitu melekat dalam diri ini. Jujur, di antara tiga nama beken itu, nama Mieriel lah yang paling populer, paling alay en paling gak banget dech. Mieriel sendiri sebetulnya merupakan akronim dari dua nama yang begitu dipaksakan untuk “serasi”. Ya serasi. Pasalnya, kala itu, jaman SMU aku pernah begitu mengagumi; lebih tepatnya tergila-gila dengan frontman band Peterpan. Siapakah dia? Yup! Ariel Peterpan. Saking kreatifnya, diciptakanlah nama yang mudah diingat dan “nyentrik” di kalangan sahabat Peterpan (sebutan bagi para pengagum Peterpan). Setelah berkutat dengan nama-nama yang super duper “ok” akhirnya terpilihlah Mieriel yang tak lain gabungan nama Tami dan Ariel.
Tak dinyana, nama ini akhirnya terus melekat dan semakin “populer” di kalangan para sahabat dekat hingga bangku kuliah; hingga akhirnya nama ini kian memudar ke-populer-an nya seiring kasus yang menimpa sang biduan dan serta kesadaranku bahwa selama ini telah salah memilih idola.
Kenapa Shadiqa Thahira?
Nama ini kemudian menjadi pengganti seiring “kemerosotan” nama Mieriel. Shadiqa Thahira; nama yang begitu kusukai sejak semester dua kuliahku. Saat itu, merupakan masa peralihan yang begitu penting dalam hidup ini. Fase dimana pencarian jati diri, fase mencari jalan hidup, semuanya ada di masa kuliah. Saat itu, aku tengah asyik “berkencan” dengan sebuah buku di selasar mesjid kampus. Nama ini, kutemukan di Sirah Sahabat Rasulullah SAW; kajian mengenai perjalanan da’wah dan hidup para sahabat dan sahabiyah Rasulullah SAW. Disana, diantara ratusan bahkan ribuan nama berbahasa Arab aku menemukan sebuah nama yang hingga detik ini sangat kugilai. Nama itu SHADIQA THAHIRA.
Shadiqa Thahira sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada putri Rasulullah SWA, Fatimah Az-Zahra. Shadiqa sendiri berasal dari kara Shiddiq yang berarti benar/kebenaran, Thahira berasal dari kata thaharoh yang bermakna suci/kesucian.
Aku memaknai nama itu dengan caraku sendiri. Sebuah motivasi sekaligus harapan di masa yang akan datang bahwa kebenaran dan kesucian jalan hidup yang telah kutemukan akan tetap bisa kujaga hingga akhir hayat. Tidak hanya itu, bahwa setiap ucapan, perbuatan dan langkah pun senantiasa ingin dalam rel yang benar. Menjaga kehormatan dan kesucian diri sebagai seorang muslimah.
Apa itu Akai Ito?
Nama terakhir ini merupakan nama yang memiliki filosofi mendalam, setidaknya untuk ukuran dan versiku sendiri. Diawali dengan kepenatan sekaligus putus asa yang mendera kala menyusun skripsi. Pelarian sekaligus ”selingkuhan” yang mencerahkan kala itu ialah dengan menonton dorama Korea dan Jepang. Hingga satu hari, ketika sibuk menjelajahi lapak DVD bajakan dekat kampus, tanpa sengaja kutemukan sebuah judul dorama Jepang yang berjudul Akai Ito. Ternyata ungkapan don’t judge a book by its cover khususnya dalam masalah memilih film mana yang layak tonton, tidaklah berlaku. Bagaimana tidak, hampir semua dorama yang pernah kutonton hanya kubeli dengan diawali ketertarikan terhadap cover DVD-nya. Dan sering tidak mengecewakan. Selang beberapa hari setelah menonton dorama itu, mendadak keinginan meneruskan skripsi yang sempat terlalaikan kembali hadir (lebay). Efek sampingnya ternyata lumayan bombastis.
Akai Ito sendiri dalam bahasa Jepang bermakna The Red String of Destiny. bagaimana masa lalu dan masa depan memiliki kaitan yang sangat erat dan dihubungkan dengan benang merah yang dinamakan takdir.
" Tuhan telah membuat kau dan aku terpaut lewat benang merah yang panjang... dalam sebuah ikatan takdir tak terlihat dan tanpa peta... Hingga nanti aku akan jatuh cinta saat bertemu denganmu... ".

