CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Friday, March 30, 2012

Kenapa ini dan kenapa itu?

Masih seperti kemarin, persis seperti kemarin lusa, serupa  malam-malam sebelumnya. Tak ada yang berubah. Sama. Jujur kukatakan, saat-saat seperti inilah ide cemerlang menurut versi dan keyakinanku akan muncul dan mengalir deras memenuhi cawan penampungan dahaga menulisku. Sebut saja aku aneh. Aku begitu menikmati jalinan rahasia malam yang begitu damai. Tak ada suara bingar yang biasa kudengar di siang bolong, atau pemandangan-pemandangan lain yang tak bisa kusaksikan di kala malam.

Ya, sekali lagi aku sangat menikmati suasana malam. Sibuk menari di atas keyboard laptop kesayangan. Mengalunkan rententan kata yang kian menemukan alurnya untuk berhenti. Lancar, lepas, tanpa kendala. Bahkan, samalaman aku pernah bisa membuat lima tulisan dengan mudahnya. Entahlah, seketika ide itu muncul tatkala suasana malam yang hening, kesendirian di sudut kamar, lampu yang temaram bahkan tak jarang hanya ditemani cahaya bulan membuat semua keindahan malam begitu terasa.

Seperti malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Ya, seperti telah kujelaskan sebelumnya, aku bahkan tak bisa beranjak pergi dari tempatku duduk. Mataku masih begitu segar untuk diistirahatkan. Rasa kantuk seolah menjauh entah kemana. Padahal, jelas sekali esok pagi tepat pukul tujuh harus sudah berangkat menuju sekolah tempatku mengajar. Ternyata, hal itu lebih sering  tak ku hiraukan. Keinginanku untuk menumpahkan segala yang terlintas dalam diri jauh lebih menggoda ketimbang tidur. 

Di penghujung malam, terbersit beberapa pertanyaan beberapa kawan. Pertanyaan menggelitik sekaligus “sangat serius” itu kembali hadir. Tujuh tahun terakhir, tepatnya saat duduk di bangku kuliah, aku memiliki banyak nickname atau sering kudeklarasikan sebagai nama beken di kalangan sahabat. Ya, nama beken; nama yang cenderung lebih dikenal ketimbang nama asliku sendiri.

Ada tiga “nama beken” yang mewakili tiga fase berbeda dalam perjalanan hidupku. “Mereka” adalah Mieriel, Akai Ito dan Shadiqa Thahira. 

What is Mieriel?

Pertama, ijinkan aku tertawa sejenak sebelum akhirnya kuceritakan awal mula nama itu begitu melekat dalam diri ini. Jujur, di antara tiga nama beken itu, nama Mieriel lah yang paling populer, paling alay en paling gak banget dech. Mieriel sendiri sebetulnya merupakan akronim dari dua nama yang begitu dipaksakan untuk “serasi”. Ya serasi. Pasalnya, kala itu, jaman SMU aku pernah begitu mengagumi; lebih tepatnya tergila-gila dengan frontman band Peterpan. Siapakah dia? Yup! Ariel Peterpan. Saking kreatifnya, diciptakanlah nama yang mudah diingat dan “nyentrik” di kalangan sahabat Peterpan (sebutan bagi para pengagum Peterpan). Setelah berkutat dengan nama-nama yang super duper “ok” akhirnya terpilihlah Mieriel yang tak lain gabungan nama Tami dan Ariel. 

Tak dinyana, nama ini akhirnya terus melekat dan semakin “populer” di kalangan para sahabat dekat hingga bangku kuliah; hingga akhirnya nama ini kian memudar ke-populer-an nya seiring kasus yang menimpa sang biduan dan serta kesadaranku bahwa selama ini telah salah memilih idola.

Kenapa Shadiqa Thahira?

Nama ini kemudian menjadi pengganti seiring “kemerosotan” nama Mieriel. Shadiqa Thahira; nama yang begitu kusukai sejak semester dua kuliahku. Saat itu, merupakan masa peralihan yang begitu penting dalam hidup ini. Fase dimana pencarian jati diri, fase mencari jalan hidup, semuanya ada di masa kuliah. Saat itu, aku tengah asyik “berkencan” dengan sebuah buku di selasar mesjid kampus. Nama ini, kutemukan di Sirah Sahabat Rasulullah SAW; kajian mengenai perjalanan da’wah dan hidup para sahabat dan sahabiyah Rasulullah SAW.  Disana, diantara ratusan bahkan ribuan nama berbahasa Arab aku menemukan sebuah nama yang hingga detik ini sangat kugilai. Nama itu SHADIQA THAHIRA.

Shadiqa Thahira sendiri merupakan gelar yang disematkan kepada putri Rasulullah SWA, Fatimah Az-Zahra. Shadiqa sendiri berasal dari kara Shiddiq yang berarti benar/kebenaran, Thahira berasal dari kata thaharoh yang bermakna suci/kesucian.

Aku memaknai nama itu dengan caraku sendiri. Sebuah motivasi sekaligus harapan di masa yang akan datang bahwa kebenaran dan kesucian jalan hidup yang telah kutemukan akan tetap bisa kujaga hingga akhir hayat. Tidak hanya itu, bahwa setiap ucapan, perbuatan dan langkah pun senantiasa ingin dalam rel yang benar. Menjaga kehormatan dan kesucian diri sebagai seorang muslimah.

Apa itu Akai Ito?

Nama terakhir ini merupakan nama yang memiliki filosofi mendalam, setidaknya untuk ukuran dan versiku sendiri. Diawali dengan kepenatan sekaligus putus asa yang mendera kala menyusun skripsi. Pelarian sekaligus ”selingkuhan” yang mencerahkan kala itu ialah dengan menonton dorama Korea dan Jepang. Hingga satu hari, ketika sibuk menjelajahi lapak DVD bajakan dekat kampus, tanpa sengaja kutemukan sebuah judul dorama Jepang yang berjudul Akai Ito. Ternyata ungkapan don’t judge a book by its cover khususnya dalam masalah memilih film mana yang layak tonton, tidaklah berlaku. Bagaimana tidak, hampir semua dorama yang pernah kutonton hanya kubeli dengan diawali ketertarikan terhadap cover DVD-nya. Dan sering tidak mengecewakan. Selang beberapa hari setelah menonton dorama itu, mendadak keinginan meneruskan skripsi yang sempat terlalaikan kembali hadir (lebay). Efek sampingnya ternyata lumayan bombastis.  
Akai Ito sendiri dalam bahasa Jepang bermakna The Red String of Destiny. bagaimana masa lalu dan masa depan memiliki kaitan yang sangat erat dan dihubungkan dengan benang merah yang dinamakan takdir.
" Tuhan telah membuat kau dan aku terpaut lewat benang merah yang panjang... dalam sebuah ikatan takdir tak terlihat dan tanpa peta... Hingga nanti aku akan jatuh cinta saat bertemu denganmu... ".


Tuesday, March 27, 2012

Generasi-generasi Impian

Siang itu, seperti biasa kudapati pemandangan serupa; kedua anak kecil itu lincah berlarian, tawa mereka lepas seolah tanpa beban serta senyum yang sesekali mengembang tatkala kuucapkan salam.
“Assalamualaikum”, sahutku
Serta merta mereka menghampiri, memeluk, mencium tanganku dan menjawab “Waalaikumsalam bibi”.
Sambutan luar biasa yang selalu kurindukan saat jarak begitu jauh memisahkan kehangatan ini.
Tak lama, bocah lelaki yang kini memiliki panggilan “Aa” mengamit kedua lenganku, pertanda ia mempersilakan aku masuk ke “istana-nya”. Di tengadahkan tangannya, kemudian menagih janjiku minggu sebelumnya, “bibi, katanya mau ngasih bros angry bird”. “Astaghfirulloh, aa maaf bibi lupa”, jawabku mantap disertai ekspresi penyesalan yang meyakinkan. Tak butuh lama, ia kemudian menyahut, “bibi, janji itu harus ditepati! Nanti Allah marah lho”. Kubalas dengan kecupan dipipi chubby-nya  seraya memberikan plastik berisi  bros angry bird yang kujanjikan. Ia pun tertawa riang dan mengecup kedua pipiku, “makasih bibi, Allah-nya gak jadi marah”. Kami pun larut dalam tawa renyah.

Satu kali, aku pernah iseng bertanya pada kedua bocah itu, “aa sama kakak cita-citanya mau jadi apa?”. Masih dengan es krim di tangan mereka pun menjawab, “kakak pengen kayak ummi sama abi” sang adik pun menyahut, “aa juga mau kayak ummi sama abi”.
Penasaran dengan jawaban mereka, akhirnya pertanyaan lanjutan terlontar dariku “memangnya kenapa kok mau kayak ummi sama abi?”
“Pokoknya pengen kayak abi dan ummi!”, ucap mereka bersamaan.


Apa ya rahasianya?
Seringkali dalam diamku, sangat teliti kuperhatikan aktivitas kedua orangtua mereka yang memiliki aktivitas mulia di luar sana, yaitu berda’wah.  Meskipun waktu yang orangtua mereka miliki hanya sedikit untuk bisa membersamai kedua bocah itu bermain atau sekedar bersenda gurau di sela waktu menjelang tidur, namun persepsi bocah-bocah itu terhadap aktivitas kedua orangtuanya begitu positif.
Pun, ketika kusaksikan langsung betapa persepsi orangtua-nya terhadap aktivitas yang mereka lakukan begitu positif. Mereka berangkat meninggalkan anak-anaknya dengan cahaya semangat di wajahnya, ruh yang menggebu dalam langkahnya, dan sunggingan senyum penuh kelapangan. Tak hanya ucapan dan langkah, bahkan sorot mata keduanya pun menyiratkan semangat yang menyala, Cahaya itu begitu dahsyat terasa hingga orang di sekitar mereka. Hingga, seringkali kudapati kedua bocah itu melepas kepergian kedua orangtuanya dengan tatapan yang menyejukkan dan harapan kelak bagi keduanya."Kakak, aa, ummi sama abi pergi dulu ya sayang".
Maka, di lain kesempatan kusaksikan gambaran lain dari seorang anak yang memiliki orangtua dengan kesibukan yang sama seperti yang telah kugambarkan sebelumnya. Miris, ketika kuutarakan pertanyaan serupa, ia menjawab dingin, “kakak gak mau kayak ummi abi”.
Subhanallah, dua sisi yang bertolak belakang. Ah, tak berani rasanya diri ini menilai terlalu jauh. Namun, satu hal yang menjadi pelajaran berharga bagiku, ialah bagaimana menjadi orangtua tidaklah semudah menyusun kalimat dalam visi pernikahan, “menjadikan rumahtangga sebagai lahan tumbuhnya generasi yang akan menegakkan panji Islam”. Tentu saja, bukan da’wahnya yang bermasalah, namun cara kita menghadapi setiap problematika yang ada.
Ah, rasanya semakin jauh jalan kesana…………..
*27 Maret 2012
Renungan atas salah satu bab buku karya Salim A. Filah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim disertai beberapa penggalan kisah dalam perjalanan hidup yang tengah kujalani

Sunday, March 25, 2012

Teruntuk Pejantan Tangguh, Suamiku


Teruntuk lelaki yang kelak kuakui sebagai suami. Teruntuk lelaki tangguh yang kelak akan menghadap kedua orangtuaku untuk meminangku dengan ikatan dunia akherat; mitsaqan ghaliza. Satu perjanjian yang kuat, satu amanah telah di ambil dari Pencipta manusia, untuk menjadikan ikatan ini satu hakikat yang diberkahi guna menjemput Ridho-Nya. Menggenapkan setengah Diin, menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.

Suamiku, jika kelak kau bertanya mengapa aku menerima pinanganmu. Maka, tak ada jawaban lain selain karena ikhtiar dan bukti ta’atku akan perintahNya.  Jalan bagiku untuk belajar ikhlas dan rela menerima ketetapanNya, karena ku tahu aku dan kau sama-sama tak pernah berpikir bahwa engkaulah sang pelengkap jiwa di kemudian hari begitupun engkau yang sama sekali tak pernah membayangkan bahwa kelak wanita yang akan kau sebut istri adalah aku.

Wahai lelaki yang kelak menjadi bapak dari anak-anakku, jika kemudian kau mendapati aku bukanlah istri yang shalehah. Maka, tegurlah aku dengan cara yang ma’ruf. Tegur aku jika aku enggan keluar rumah untuk “bergerak”. Marahi aku dengan cara yang ma’ruf jika mendapatiku berdiam diri dan terlena dengan kesibukkan rumah tangga.

Wahai lelaki yang kelak menjadi pemimpin rumah tanggaku, ku tahu kau takkan melarangku untuk “berkarir” di luar rumah. Karena di luar rumah lah kau dan aku mampu mengepakkan “sayap” kita lebar-lebar.

Suamiku, aku tahu bahwa rumah tangga kita kelak bukanlah rumah tangga yang didasari cinta sebelum pernikahan. Aku tahu, jika rumah tangga kita didasari keyakinan bahwa Allah akan menyandingkan kita dengan pasangan yang sepadan dalam hal gerak, iman dan karya. Kuharap, cinta dalam diriku maupun dirimu akan bertumbuh setelah pernikahan.

Untukmu lelaki hebat yang kelak mendampingi langkahku, ku tahu rumah tangga kita bukanlah rumah tangga romantis se-romantis cerita-cerita cinta dalam sebuat novel ataupun film. Ku tahu, kita bukanlah pasangan yang akan selalu saling menemani kemanapun kau ataupun aku pergi. Ku tahu, engkau takkan selalu ada di rumah. Bahkan, aku akan merasakan ketidakhadiranmu di rumah ini berminggu-minggu. Bisa jadi, aku lah yang akan sering mendengar rengekan dan tangisan serta tawa ceria anak-anak kita.

Suamiku, engkau pun tahu, kau takkan mendapati aku selalu ada di rumah. Menyambutmu dengan senyum terindah, berhias dengan tampilan terbaik menyambut kedatanganmu. Bisa jadi, kau hanya menemukan rumah dalam keadaan kosong bahkan tanpa ada sedikitpun hidangan yang kusiapkan untukmu.

Karena, saat kau telah menyatakan keinginamu meminangku dan aku bersedia menerima pinanganmu. Di saat itu pulalah, kita telah sama-sama memahami bahwa aku dan kau akan mengalami semua hal yang aku utarakan di atas.

*Menyiapkan diri menantikan kedatanganmu kelak, sementara ini kuisi dengan terus berusaha mem-baikkan dan memantaskan diri di hadapanNya. Karena aku ingin sepadan denganmu dalam hal iman, gerak dan karya di hadapanNya. Hingga, kelak aku bisa menjadi teman seperjalanan dan pendukung langkahmu….

***corat-coret diiringi Nasyid DeHearty-Permata yang dicari***

Bandung, 25 Maret 2012