CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sunday, November 18, 2012

Sepasang Senja


Jika kita masih muda, punya banyak waktu, punya kelapangan, maka terlibatlah mengurus sekitar. Apa saja. Ikutan ngajar TPA, ikutan bikin perpustakaan, ikutan menyekolahkan adik2, bibi2, mbak2 yg kerja di sekitar, membagikan sepatu bekas, baju2 bekas, bahkan ikutan ngurus posyandu. Dalam skala yg lebih besar, ikutan program mengajar ke pelosok2 misalnya, ikutan program2 kegiatan sosial, atau ikutan 
menyebarkan pemahaman baik, ide2 kebaikan.
Maka, jika kita melakukannya dgn niat tulus, Allah akan membalasnya dengan kebahagiaan yg tidak bisa dibeli. Dan efek positif paling simpel--kalau soal kebahagiaan ini terlalu abstrak, Allah akan membalasnya dgn membukakan pintu2 silaturahmi, pintu2 rezeki, pintu2 kesempatan, dan pintu2 pemahaman baik.

Tere Liye

Beberapa waktu ke belakang, saya begitu menyukai kutipan kalimat di atas yang saya sadur dari seorang Penulis Novel yang belakangan karya-karyanya menjadi “penghuni” baru perpustakaan mini saya.  Kembali ke kutipan di atas, banyak hal yang saya petik dari rentetan kalimat di atas yang kemudian saya gigit kuat-kuat sebagai landasan dalam melangkah.
Keinginan saya untuk berkontribusi bagi sekitar, khususnya untuk Islam membawa saya melanglangbuana ke berbagai kota yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya singgahi, meskipun cakupannya masih sekitaran Jawa Barat. Ada banyak harapan yang saya genggam manakala saya mulai melangkah menuju kota-kota tersebut. Harapan bahwa suatu saat nanti akan ada bibit-bibit generasi Islam yang lahir dan tumbuh ditempat dimana saya pernah berpijak.
Perjalanan menuju tempat-tempat baru itu menjadi perjalanan yang demikian meng-asyik-kan sekaligus mendebarkan.  Sebuah ke-asyik-an tersendiri ketika harus berdesak-desakkan di bus/elf yang berjejal bersama orang-orang baru dan tidak kita kenal. Sebuah kegembiraan yang tak terkatakan saat memandangi pemandangan menyejukkan sepanjang perjalanan. Sebuah ketakjuban luar biasa manakala menyaksikan orang-orang berbeda rupa namun dengan tujuan perjalanan yang sama saling bercengkrama meskipun saya yakin sebagian besar dari mereka tidaklah saling mengenal. Toleransi sebagai penumpang yang “senasib sepenanggungan” untuk memberikan kesempatan duduk bagi yang sedari tadi berdiri.
Seperti perjalanan saya kali ini, perjalanan untuk ke sekian kalinya ke sebuah kota yang terkenal dengan kecapnya; Majalengka. Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh 3-4 dari Bandung. Tapi tidak untuk hari ini. Perjalanan menjadi berlipat lebih lama dari biasanya, dikarenakan banyak hal termasuk macet yang mengular dari Bandung.
Satu hal yang tidak boleh terlupa ketika bepergian jauh adalah membawa satu atau beberapa buku yang akan menjadi teman paling setia dari gempuran rasa kantuk dan bosan selama perjalanan, dan ini sangat membantu. Setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan kemacetan, tak terasa elf yang saya tumpangi telah tiba di sebuah kota yang terkenal dengan tahu-nya; Sumedang. Disini, rasa kantuk sudah mulai menyergap ditambah macet yang kembali mengular di sekitaran Sumedang. Pun, buku yang saya bawa sudah dengan suksesnya saya lahap.
Mata yang sudah menuju ke kisaran 5 watt kembali dipaksa untuk terbuka ketika sang  kenek “memaksa” saya untuk bergeser dari tempat duduk yang saya tempati menepi ke arah jendela. Ternyata, “paksaan” itu cukup manjur membuat saya terbangun dan duduk manis untuk beberapa saat sampai saya tersadar ada ibu-ibu paruh baya yang layak saya sebut nenek duduk di samping saya. Dari perawakkannya, saya taksir usianya kira-kira 70 tahunan. Matanya berbinar seolah tengah mengabarkan pada sekeliling, termasuk saya, bahwa si nenek tengah berbahagia, namun entah karena apa.
Beberapa saat tak saya hiraukan kehadiran si nenek, karna rasa kantuk yang lagi-lagi merusak mood saya untuk “berpetualang”. Sampai si nenek menawarkan tahu yang ia beli dari pedagang asongan tak kenal lelah berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Dengan lambaian tangan dan gelengan kepala pertanda penolakan. Dengan senyum mengembang sembari memamerkan deretan giginya yang tinggal satu-satu si nenek memandangi saya.
Bade kamana neng?” tanya si nenek penuh semangat. “Bade ka Majalengka, Ma”, jawab saya tak kalah semangat. “Sareng saha neng?”, kembali ia bertanya. “Nyalira, Ma”, jawab saya lebih semangat. “Meni ludeungan si eneng mah”, ujarnya. Kali ini tanpa harus ada jawaban.
Si nenek masih saja asyik melahap tahu Sumedang-nya yang kini tinggal beberapa lagi. Namun, kali ini ia ditemani seorang kakek yang tak kalah ramahnya, yang kutebak sebagai suami si nenek. Ternyata benar, karena saat itu juga ia berseloroh mengenai dirinya pada saya tanpa diminta.
Masih asyik dengan tahu yang mereka habiskan bersama, hati saya terusik ingin bertanya namun saya urungkan, karena khawatir pertanyaan itu menjadi sesuatu hal yang lancang untuk ditanyakan. Namun, nyatanya tidak, karena lagi-lagi si kakek kembali membuka pembicaraan seolah tahu apa yang tengah saya pikirkan tentang mereka.
Singkat cerita, mereka bercerita mengenai kehidupan rumah tangga yang telah mereka jalani selama kurang lebih 50 tahun. Bercerita tentang anak cucu yang begitu mereka sayangi. Sampai pada satu momen dimana saya mulai memberanikan diri untuk bertanya akan sebuah pertanyaan yang sedari tadi saya simpan. “Ma sareng aki apanan tos lami nikahna nya, naha naon anu janten ceuceupeungan ma sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?” Keduanya kemudian tersenyum tanpa jawaban yang keluar dari lisan mereka.
Saya pun menghela nafas, takut-takut apa yang tadi saya tanyakan memanglah pertanyaan yang kurang sopan. Sampai kemudian, si nenek bercerita bahwa mereka menikah diawali dengan sebuah perjodohan yang di-seting sedemikian rupa oleh kedua orangtua mereka masing-masing. Tanpa pernah bersitatap, tidak saling mengenal apalagi saling berhubungan. Mereka dipertemukan seminggu sebelum pernikahan digelar.
Lalu apa yang menjadikan mereka setuju untuk kemudian mau bersatu dalam sebuah mahligai pernikahan? Jawabannya sederhana saja, saat itu mereka meyakini bahwa keputusan orangtua untuk menjodohkan mereka bukanlah sebuah tindakan tanpa alasan, melainkan untuk kebaikan mereka juga. Serta atas dasar bahwa tak ada orangtua yang mau menyerahkan anak gadisnya kepada laki-laki yang tak baik. Atas dasar itulah, mereka kemudian menapaki hari-hari sebagai suami istri.
Kemudian saya pun kembali bertanya, apakah keduanya saling mencintai? Kali ini, mereka tertawa terbahak-bahak. Bukan mentertawakan pertanyaan saya, melainkan sebuah ekspresi atas pertanyaan yang mungkin akan membuat mereka kembali menggali memori masa lalu. “Tidak”, jawab si kakek. Rasa cinta itu bahkan tidak ada dan baru muncul ketika mereka sudah mengucapkan ijab kabul sebagai sepasang suami istri. Rasa cinta itu muncul dari proses dan keberanian keduanya untuk membangun biduk rumah tangga yang didasari rasa hormat dan keyakinan akan maksud orangtua.
Rasa cinta itu kian tumbuh subur menghiasai hari-hari mereka ketika satu persatu buah hati hadir di antara mereka. Namun, sayangnya rasa cinta itu hanya berlaku di awal-awal tahun pernikahan. Rentang 1-5 tahun pertama, rasa cinta itu masih mekar merona. Namun, setelah itu terasa hambar dan membosankan.
Semakin penasaran, saya pun kembali melontarkan pertanyaan tentang bagaimana keduanya menjalani hari-hari dalam pernikahan mereka jelang tahun ke-6 dan seterusnya ditambah dengan hadirnya "anggota" baru di tengah-tengah mereka. Jawaban pun kembali meluncur, yaitu komitmen. Ketika rasa cinta sudah semakin memudar, rasa bosan kian menjalar, maka ingat akan komitmen yang pernah diucapkan di depan penghulu menjadi obat yang paling mujarab untuk mengatasinya. Ketika kehidupan ekonomi mereka turun naik, disaat bersamaan anak-anak mereka membutuhkan biaya hidup yang tak sedikit, maka komitmen mereka untuk menjadi ayah dan ibu yang baik bagi anak-anak mereka menjadi amunisi paling mutakhir yang membangkitkan dua kali lipat semangat untuk tetap bertahan. Disaat rasa bosan menghinggapi suami/istri untuk melayani dan mencukupi kebutuhan pasangannya, maka kembali lagi komitmen sebagai istri/suami yang baik bagi pasangannya menjadi pengingat terbaik. Dan di atas segalanya, komitmen mereka terhadap Allah untuk menjadi hamba-hamba terbaik yang akan membawa anak, istri di jalan haq, melahirkan generasi-generasi Islam yang tangguh yang dilahirkan dari rahim ibu yang tangguh pula menjadi satu angin segar yang meniupkan ruh-ruh semangat dalam jiwa untuk terus melangkah meski aral dan rintang menghadang. Subhanallah.


Tanyakanlah pada orang2 yang telah menikah dengan bahagia di atas 20 tahun (boleh jadi orang tua kalian termasuk). Apa yang membuat mereka langgeng hingga selama itu, dan akan terus langgeng? Apakah karena (a) cinta, (b) komitmen atau karena (c) saling percaya.
Mereka bisa memberikan jawaban yang penuh hikmah.

Tere Liye


Maka, jawaban penuh hikmah itu pun telah saya dapatkan dari sepasang suami istri lanjut usia yang menjadi teman seperjalanan saya dari Bandung-Majalengka. Sebuah pemahaman sederhana dalam memahami sebuah pernikahan. Tanpa banyak kata, tapi terbukti dalam langkah dan kualitas hidup yang telah mereka gapai, meskipun untuk ukuran dunia mereka kalah telak. Sekali lagi, satu pemahaman baik telah Allah hadiahkan dari perjalanan yang telah dilalui. Sebuah kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat sangat atas rizki pemahaman dan rizki silaturahim yang menguatkan. Hingga ingin diri ini suatu saat bertemu dengan pasangan hidup sekufu yang akan menjadi teman hidup, teman seperjalanan menapaki hari-hari penuh onak dan duri, sahabat sejati yang akan membersamai hingga akhirat kelak. Aamiin.

Kosakata:
Bade kamana neng?”= mau kemana neng?
 “Bade ka Majalengka, Ma”= mau ke Majalengka Ma
Ema/Ma= panggilan untuk nenek, ibu
 “Sareng saha neng?” =sama siapa neng?
Nyalira, Ma”= sendirian Ma
 “Meni ludeungan si eneng mah”= si eneng berani
Ma sareng aki apanan tos lami nikahna nya, naha naon anu janten ceuceupeungan ma sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?” = Ma sareng Aki kan sudah lama menikah, hal apa yang dipegang selama ini hingga bisa melalui masa-masa pernikahan selama 50 tahun

Bandung, 18 November 2012

No comments:

Post a Comment