Jika
kita masih muda, punya banyak waktu, punya kelapangan, maka terlibatlah
mengurus sekitar. Apa saja. Ikutan ngajar TPA, ikutan bikin perpustakaan,
ikutan menyekolahkan adik2, bibi2, mbak2 yg kerja di sekitar, membagikan sepatu
bekas, baju2 bekas, bahkan ikutan ngurus posyandu. Dalam skala yg lebih besar,
ikutan program mengajar ke pelosok2 misalnya, ikutan program2 kegiatan sosial,
atau ikutan
menyebarkan pemahaman
baik, ide2 kebaikan.
Maka, jika kita melakukannya dgn niat tulus, Allah akan
membalasnya dengan kebahagiaan yg tidak bisa dibeli. Dan efek positif paling
simpel--kalau soal kebahagiaan ini terlalu abstrak, Allah akan membalasnya dgn
membukakan pintu2 silaturahmi, pintu2 rezeki, pintu2 kesempatan, dan pintu2
pemahaman baik.
Tere Liye
Beberapa waktu ke belakang,
saya begitu menyukai kutipan kalimat di atas yang saya sadur dari seorang
Penulis Novel yang belakangan karya-karyanya menjadi “penghuni” baru
perpustakaan mini saya. Kembali ke
kutipan di atas, banyak hal yang saya petik dari rentetan kalimat di atas yang
kemudian saya gigit kuat-kuat sebagai landasan dalam melangkah.
Keinginan saya untuk
berkontribusi bagi sekitar, khususnya untuk Islam membawa saya melanglangbuana
ke berbagai kota yang sebelumnya sama sekali belum pernah saya singgahi,
meskipun cakupannya masih sekitaran Jawa Barat. Ada banyak harapan yang saya
genggam manakala saya mulai melangkah menuju kota-kota tersebut. Harapan bahwa
suatu saat nanti akan ada bibit-bibit generasi Islam yang lahir dan tumbuh
ditempat dimana saya pernah berpijak.
Perjalanan menuju
tempat-tempat baru itu menjadi perjalanan yang demikian meng-asyik-kan
sekaligus mendebarkan. Sebuah
ke-asyik-an tersendiri ketika harus berdesak-desakkan di bus/elf yang berjejal bersama
orang-orang baru dan tidak kita kenal. Sebuah kegembiraan yang tak terkatakan
saat memandangi pemandangan menyejukkan sepanjang perjalanan. Sebuah
ketakjuban luar biasa manakala menyaksikan orang-orang berbeda rupa namun
dengan tujuan perjalanan yang sama saling bercengkrama meskipun saya yakin
sebagian besar dari mereka tidaklah saling mengenal. Toleransi sebagai
penumpang yang “senasib sepenanggungan” untuk memberikan kesempatan duduk bagi
yang sedari tadi berdiri.
Seperti perjalanan saya kali
ini, perjalanan untuk ke sekian kalinya ke sebuah kota yang terkenal dengan
kecapnya; Majalengka. Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh 3-4 dari Bandung.
Tapi tidak untuk hari ini. Perjalanan menjadi berlipat lebih lama dari
biasanya, dikarenakan banyak hal termasuk macet yang mengular dari Bandung.
Satu hal yang tidak boleh
terlupa ketika bepergian jauh adalah membawa satu atau beberapa buku yang akan
menjadi teman paling setia dari gempuran rasa kantuk dan bosan selama perjalanan,
dan ini sangat membantu. Setelah berhasil melepaskan diri dari kungkungan
kemacetan, tak terasa elf yang saya tumpangi telah tiba di sebuah kota yang
terkenal dengan tahu-nya; Sumedang. Disini, rasa kantuk sudah mulai menyergap
ditambah macet yang kembali mengular di sekitaran Sumedang. Pun, buku yang saya
bawa sudah dengan suksesnya saya lahap.
Mata yang sudah
menuju ke kisaran 5 watt kembali dipaksa untuk terbuka ketika sang kenek “memaksa” saya untuk bergeser dari
tempat duduk yang saya tempati menepi ke arah jendela. Ternyata, “paksaan”
itu cukup manjur membuat saya terbangun dan duduk manis untuk beberapa saat
sampai saya tersadar ada ibu-ibu paruh baya yang layak saya sebut nenek duduk di samping saya. Dari
perawakkannya, saya taksir usianya kira-kira 70 tahunan. Matanya berbinar
seolah tengah mengabarkan pada sekeliling, termasuk saya, bahwa si nenek tengah
berbahagia, namun entah karena apa.
Beberapa saat tak saya
hiraukan kehadiran si nenek, karna rasa kantuk yang lagi-lagi merusak mood saya
untuk “berpetualang”. Sampai si nenek menawarkan tahu yang ia beli dari
pedagang asongan tak kenal lelah berteriak-teriak menawarkan
dagangannya. Dengan lambaian tangan dan gelengan kepala pertanda
penolakan. Dengan senyum mengembang sembari memamerkan deretan giginya yang
tinggal satu-satu si nenek memandangi saya.
“Bade kamana neng?” tanya si nenek penuh semangat. “Bade ka Majalengka, Ma”, jawab saya tak
kalah semangat. “Sareng saha neng?”,
kembali ia bertanya. “Nyalira, Ma”,
jawab saya lebih semangat. “Meni
ludeungan si eneng mah”, ujarnya. Kali ini tanpa harus ada jawaban.
Si nenek masih saja asyik
melahap tahu Sumedang-nya yang kini tinggal beberapa lagi. Namun, kali ini ia
ditemani seorang kakek yang tak kalah ramahnya, yang kutebak sebagai suami si
nenek. Ternyata benar, karena saat itu juga ia berseloroh mengenai dirinya pada
saya tanpa diminta.
Masih asyik dengan tahu yang
mereka habiskan bersama, hati saya terusik ingin bertanya namun saya urungkan,
karena khawatir pertanyaan itu menjadi sesuatu hal yang lancang untuk
ditanyakan. Namun, nyatanya tidak, karena lagi-lagi si kakek kembali membuka
pembicaraan seolah tahu apa yang tengah saya pikirkan tentang mereka.
Singkat cerita, mereka
bercerita mengenai kehidupan rumah tangga yang telah mereka jalani selama
kurang lebih 50 tahun. Bercerita tentang anak cucu yang begitu mereka sayangi. Sampai
pada satu momen dimana saya mulai memberanikan diri untuk bertanya akan sebuah
pertanyaan yang sedari tadi saya simpan. “Ma
sareng aki apanan tos lami nikahna nya, naha naon anu janten ceuceupeungan ma
sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?” Keduanya kemudian tersenyum tanpa
jawaban yang keluar dari lisan mereka.
Saya pun menghela nafas,
takut-takut apa yang tadi saya tanyakan memanglah pertanyaan yang kurang sopan.
Sampai kemudian, si nenek bercerita bahwa mereka menikah diawali dengan sebuah
perjodohan yang di-seting sedemikian rupa oleh kedua orangtua mereka
masing-masing. Tanpa pernah bersitatap, tidak saling mengenal apalagi saling
berhubungan. Mereka dipertemukan seminggu sebelum pernikahan digelar.
Lalu apa yang menjadikan
mereka setuju untuk kemudian mau bersatu dalam sebuah mahligai pernikahan?
Jawabannya sederhana saja, saat itu mereka meyakini bahwa keputusan orangtua
untuk menjodohkan mereka bukanlah sebuah tindakan tanpa alasan, melainkan untuk
kebaikan mereka juga. Serta atas dasar bahwa tak ada orangtua yang mau
menyerahkan anak gadisnya kepada laki-laki yang tak baik. Atas dasar itulah,
mereka kemudian menapaki hari-hari sebagai suami istri.
Kemudian saya pun kembali
bertanya, apakah keduanya saling mencintai? Kali ini, mereka tertawa
terbahak-bahak. Bukan mentertawakan pertanyaan saya, melainkan sebuah ekspresi
atas pertanyaan yang mungkin akan membuat mereka kembali menggali memori masa
lalu. “Tidak”, jawab si kakek. Rasa cinta itu bahkan tidak ada dan baru muncul
ketika mereka sudah mengucapkan ijab kabul sebagai sepasang suami istri. Rasa
cinta itu muncul dari proses dan keberanian keduanya untuk membangun biduk
rumah tangga yang didasari rasa hormat dan keyakinan akan maksud orangtua.
Rasa cinta itu kian tumbuh subur
menghiasai hari-hari mereka ketika satu persatu buah hati hadir di antara mereka.
Namun, sayangnya rasa cinta itu hanya berlaku di awal-awal tahun pernikahan. Rentang
1-5 tahun pertama, rasa cinta itu masih mekar merona. Namun, setelah itu terasa
hambar dan membosankan.
Semakin penasaran, saya pun
kembali melontarkan pertanyaan tentang bagaimana keduanya menjalani hari-hari
dalam pernikahan mereka jelang tahun ke-6 dan seterusnya ditambah dengan
hadirnya "anggota" baru di tengah-tengah mereka. Jawaban pun kembali meluncur,
yaitu komitmen. Ketika rasa cinta sudah semakin memudar, rasa bosan kian
menjalar, maka ingat akan komitmen yang pernah diucapkan di depan penghulu menjadi obat yang paling mujarab untuk mengatasinya. Ketika kehidupan ekonomi
mereka turun naik, disaat bersamaan anak-anak mereka membutuhkan biaya
hidup yang tak sedikit, maka komitmen mereka untuk menjadi ayah dan ibu yang
baik bagi anak-anak mereka menjadi amunisi paling mutakhir yang membangkitkan
dua kali lipat semangat untuk tetap bertahan. Disaat rasa bosan menghinggapi
suami/istri untuk melayani dan mencukupi kebutuhan pasangannya, maka kembali
lagi komitmen sebagai istri/suami yang baik bagi pasangannya menjadi pengingat
terbaik. Dan di atas segalanya, komitmen mereka terhadap Allah untuk menjadi
hamba-hamba terbaik yang akan membawa anak, istri di jalan haq, melahirkan generasi-generasi
Islam yang tangguh yang dilahirkan dari rahim ibu yang tangguh pula menjadi
satu angin segar yang meniupkan ruh-ruh semangat dalam jiwa untuk terus
melangkah meski aral dan rintang menghadang. Subhanallah.
Tanyakanlah pada orang2 yang telah menikah
dengan bahagia di atas 20 tahun (boleh jadi orang tua kalian termasuk). Apa
yang membuat mereka langgeng hingga selama itu, dan akan terus langgeng? Apakah
karena (a) cinta, (b) komitmen atau karena (c) saling percaya.
Mereka bisa memberikan jawaban yang penuh
hikmah.
Tere Liye
Maka, jawaban penuh hikmah
itu pun telah saya dapatkan dari sepasang suami istri lanjut usia yang menjadi
teman seperjalanan saya dari Bandung-Majalengka. Sebuah pemahaman sederhana
dalam memahami sebuah pernikahan. Tanpa banyak kata, tapi terbukti dalam
langkah dan kualitas hidup yang telah mereka gapai, meskipun untuk ukuran dunia
mereka kalah telak. Sekali lagi, satu pemahaman baik telah Allah hadiahkan dari
perjalanan yang telah dilalui. Sebuah kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat
sangat atas rizki pemahaman dan rizki silaturahim yang menguatkan. Hingga ingin
diri ini suatu saat bertemu dengan pasangan hidup sekufu yang akan menjadi teman hidup, teman seperjalanan menapaki hari-hari penuh onak dan duri, sahabat sejati yang akan membersamai hingga akhirat
kelak. Aamiin.
Kosakata:
“Bade
kamana neng?”= mau kemana neng?
“Bade ka Majalengka, Ma”= mau ke
Majalengka Ma
Ema/Ma=
panggilan untuk nenek, ibu
“Sareng saha neng?” =sama siapa neng?
“Nyalira,
Ma”= sendirian Ma
“Meni ludeungan si eneng mah”= si eneng
berani
“Ma sareng aki apanan tos lami nikahna nya,
naha naon anu janten ceuceupeungan ma sareng aki dugi ka nikah 50 tahun teh?”
= Ma sareng Aki kan sudah lama menikah, hal apa yang dipegang selama ini hingga
bisa melalui masa-masa pernikahan selama 50 tahun
Bandung,
18 November 2012

No comments:
Post a Comment