Di hadapanku, tak jauh dari tempatku berdiri kini nampak sepasang anak manusia duduk bersisian. Si wanita menangis, si pemuda menenangkannya dengan penuh kelembutan dan kata-kata mesra. Tak dihiraukannya “keluhan” dan tatapan sinis orang disekeliling mereka.
Kulemparkan sejenak pandanganku ke sudut lain yang menurutku lebih menarik. Hujan yang kian deras mengguyur bumi sore ini membuatku harus berlama-lama menikmati pemandangan di tempat ini. Jalanan yang macet pun tak terelakkan, aroma tanah basah akibat hujan pun kian merebak menusuk indera penciuman.
Kembali menatap kedua insan yang kini entah tengah berbincang apa. Nampak si wanita sudah menyelesaikan tangisannya sembari sesekali tersenyum penuh makna pada si pemuda. Tak dinyana, si pemuda 'menghadiahi' kecupan entah dibagian mana. Ku palingkan muka. Jalanan masih saja mengular tak terurai. Pikiranku ruwet, seolah waktu melambat dan tak bersahabat.
Kualihkan perhatianku ke bangunan tua di seberang sana. Arsitektur khas ala Eropa yang tetap kokoh berdiri meski kota ini telah berubah menjadi seribu wajah. Pohon-pohon rindang masih menghiasi pelataran tempat ini. Wajah-wajah letih para pembelajar sesekali muncul di ambang gerbang bangunan ini.
Tepat di belakang tempatku berdiri kini berdiri kokoh sebuah mesjid yang nampak sudah sepi dikunjungi jamaah. Di pelataran mesjid tak ada aktivitas berarti, yang terlihat hanya beberapa pedagang kaki lima yang tengah tertidur lelap "menelantarkan" dagangan mereka.
Kupercepat langkahku menuju pintu gerbang bangunan di seberangku ini. Kulayangkan pandangku menjelajah sudut demi sudut, patung gajah itu, tempat duduk bercat hijau itu, pohon-pohon itu, pagar itu...ah mereka seolah membawaku melintasi jejak ruang dan waktu. Dari tempatku bersandar kini seiring laju pikirku yang kian tak menentu. Melintasi setiap episode hidup yang kian hari kian menemukan alurnya. Membuat hidupku kian riuh dan berwarna. Tapi, entah kenapa hidupku dipenuhi kilat semata. Meski aku tau itu bukan pertanda hujan...ah dasar hati, lompatannya tak pernah bisa diduga!
*episode penjelajahan hati part 1
Aku, Al-Furqon dan Mesjid Salman ITB
17/04/2012
Kulemparkan sejenak pandanganku ke sudut lain yang menurutku lebih menarik. Hujan yang kian deras mengguyur bumi sore ini membuatku harus berlama-lama menikmati pemandangan di tempat ini. Jalanan yang macet pun tak terelakkan, aroma tanah basah akibat hujan pun kian merebak menusuk indera penciuman.
Kembali menatap kedua insan yang kini entah tengah berbincang apa. Nampak si wanita sudah menyelesaikan tangisannya sembari sesekali tersenyum penuh makna pada si pemuda. Tak dinyana, si pemuda 'menghadiahi' kecupan entah dibagian mana. Ku palingkan muka. Jalanan masih saja mengular tak terurai. Pikiranku ruwet, seolah waktu melambat dan tak bersahabat.
Kualihkan perhatianku ke bangunan tua di seberang sana. Arsitektur khas ala Eropa yang tetap kokoh berdiri meski kota ini telah berubah menjadi seribu wajah. Pohon-pohon rindang masih menghiasi pelataran tempat ini. Wajah-wajah letih para pembelajar sesekali muncul di ambang gerbang bangunan ini.
Tepat di belakang tempatku berdiri kini berdiri kokoh sebuah mesjid yang nampak sudah sepi dikunjungi jamaah. Di pelataran mesjid tak ada aktivitas berarti, yang terlihat hanya beberapa pedagang kaki lima yang tengah tertidur lelap "menelantarkan" dagangan mereka.
Kupercepat langkahku menuju pintu gerbang bangunan di seberangku ini. Kulayangkan pandangku menjelajah sudut demi sudut, patung gajah itu, tempat duduk bercat hijau itu, pohon-pohon itu, pagar itu...ah mereka seolah membawaku melintasi jejak ruang dan waktu. Dari tempatku bersandar kini seiring laju pikirku yang kian tak menentu. Melintasi setiap episode hidup yang kian hari kian menemukan alurnya. Membuat hidupku kian riuh dan berwarna. Tapi, entah kenapa hidupku dipenuhi kilat semata. Meski aku tau itu bukan pertanda hujan...ah dasar hati, lompatannya tak pernah bisa diduga!
*episode penjelajahan hati part 1
Aku, Al-Furqon dan Mesjid Salman ITB
17/04/2012

No comments:
Post a Comment