CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Monday, August 18, 2008

Aku Rindu pada Driku yang Dulu

Lentera itu kini redup
Mati perlahan seiring berjalannya putaran masa
Yang tersisa hanya kegelapan, sunyi dan pengap

Aku rindu dengan diriku yang dulu. Aku rindu dengan diriku tiga tahun yang lalu. Ada semangat bergelora disana, ada harap, cita dan cinta disana. Ada yakin dan kerinduan disana.

Perlahan, itu semua pudar satu persatu tatkala cermin hati mulai berkarat, buram termakan usia. Tak ada air kesejukan yang membersihkan karat-karatnya. Tak ada lap kesabaran yang menghapus debu-debu kejahiliyahan. Layaknya genangan air yang tak bergerak tak menemukan arah menuju tepian, diam, lalu busuk dan berbau.

Perlahan, motivasi diri mulai mengendur ketika harap, cinta dan kerinduan perlahan hilang tergerus lalu lintas rutinitas, kebutuhan dan tuntutan hidup. Perlahan, tekad dan cita-cita berjalan tanpa ruh, hampa, kosong bahkan tanpa iman. Saat diri secara perlahan, sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, sehasta demi sehasta mulai menyerah pada keadaan. Nafsu dan keinginan diri telah mendominasi jejak-jejak penghambaan pada “yang bukan fitrah”. Onak dan duri cobaan tak lagi mampu aku singkirkan dari jalan menuju Ridho-Mu. Jalanan terjal menuju titik tertinggi penghambaanku mulai terasa sulit kudaki.

Kemanakah aku yang dulu? Kemanakah aku yang sanggup menjalani setiap duri cobaan dengan hati penuh harap akan Karunia-Nya? Aku yang tak menghirauan “kicauan” nada-nada sumbang para penghujat Dien-Mu. Aku yang tak kenal menyerah sebelum benar-benar berikhtiar maksimal. Aku yang tetap berusaha untuk setia di jalan-Mu. Aku yang tak gentar hanya karena gelar yang “mereka” sematkan di dadaku “GELAR SEBAGAI ORANG ANEH”. Gelar “prestisius” untuk orang yang masih berpikir bahwa Islam pasti akan kembali tegak berdiri di atas Dien yang bathil.

Mengapa semua kini seperti kembali berbalik, berputar menuju titik nol. Apakah aku hanya satu diantara buih di lautan kesesatan yang terombang ambing tanpa arah? Ataukah aku hanya genangan air yang mulai membusuk? Atau mungkin seonggok daging tanpa ruh di dalamnya?

Ya Allah…..apakah aku telah tereliminasi dari perjalanan menuju Ridho-Mu? Ataukah aku telah berbalik, kembali ke “Gua Hiro” ketika untuk pertama kalinya kutemukan, kudengar, kupahami dan kulangkahkan “Iqra, Iqra, Iqra!” dalam separuh perjalanan hidupku?

Ya Rabb…aku ingin merdeka, aku ingin menang, aku ingin bebas berproklamasi. Seperti halnya Bilal Bin Rabbah yang secara bebas, lantang dan penuh keyakinan berikrar “Ahad, Ahad,Ahad!”, meski tindihan batu mendera, meski teriknya mentari memanggang tubuhnya, meski hujatan, cacian dan makian tak henti menghadang langkahnya. Tapi ia sosok yang bebas, menang dan merdeka.

Ya Rahman….Ijinkan aku untuk ber-reuni menapak tilas perjalananku menuju Cahaya-Mu. Perjalanan panjang penuh airmata. Perjalanan dalam mengalahkan nafsu diri. Perjalanan dalam memimpin diri. Perjalanan memaknai arti berlepas diri dan memerdekakan diri dari musuh fitrah.

Ya Rahiim…. Tanamkan kembali akar keyakinan dalam hatiku. Tumbuhkan daun iman di dahan kesabaran dalam jiwaku. Serta suburkanlah buah iman yang akan tercermin dalam setiap langkahku menuju Ridho-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.

No comments:

Post a Comment