Wah jadi pengen senyum dulu ney sebelum memulai menulis..... Soalnya saya terinspirasi ato lebih tepatnya nyontek "dikit" judul sebuah buku yang gak sengaja saya liat di Gramedia kemaren hehehehhe...mudah2an penulisnya gak marah ya........
Satu lagi ney yang pengen saya bagi di tulisan ini mengenai arti hakiki tentang sebuah kebahagiaan. Mungkin akan ada banyak pendapat mengenai apa itu bahagia. Tapi, disini saya tidak akan membahas perbedaan-perbedaan itu.Yang ingin saya bagi ialah kebahagiaan bagi seorang Muslim itu seperti apa sey.
Mungkin atau bahkan seringkali kita menilai bahwa bukti rill sebuah kebahagiaan itu ialah dengan memiliki banyak uang, pekerjaan yang mapan, memiliki pendamping hidup yang tampan atau cantik. Saya fikir itu tidak salah, karena saya pun seringkali memiliki anggapan demikian.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.QS. Ali Imran (3) : 14
Namun, pernah gak kita berpikir kalo kesemuanya itu hanya sementara alias bisa aja sewaktu-waktu kebahagiaan itu akan Allah cabut kembali dari kita. Uang yang kita miliki, pekerjaan yang kita bangga-banggakan dan pendamping hidup ayng kita harapkan akan selamanya mendampingi kita. Satu keniscayaan bahwa suatu hari nanti itu semua akan kembali kepada Sang Pemilik Alam Semesta ini.
Tapi, ada satu kebahagiaan yang hakiki.Kebahagiaan yang akan terus tumbuh dan berkembang menjadi taman indah. Tidak akan pernah Allah cabut kembali, karena Allah akan menjamin kebahagiaan itu tetap ada dalam hati kita. Allah telah mempersiapkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari tu semua.
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambanya.
QS. Ali Imran (3) : 15
Kalo mengutip judul lagu Hedi Yunus “Ku bersyukur jadi Muslim”, memang menjadi seorang Muslim ialah satu kebahagiaan yang tak terhingga. Lalu, apakah bukti kalo kebahagiaan sebagai Muslim itu akan Allah jaga?
Seperti yang Allah sabdakan dalam ayat-ayat cintanya bahwa “tidaklah seorang hamba mengaku beriman sebelum ia diuji dengan ujian yang sama seperti umat-umat sebelumnya”. Maka, siap-siaplah kawan ketika kita mengikrarkan diri bahwa kita bersyukur menjadi Muslim ketika itu pula Allah akan mendatangkann ujiannya untuk kita. Ujian yang akan membuktikan sejauh mana rasa syukur kita.
Apakah cukup sampai disini? Ohhh...tentu tidak kawan. Dalam setiap ujian pasti ada yang sukses dan ada yang gagal menjalaninya. Pasti ada yang tak kuat menjalaninya, butuh dukungan, butuh uluran tangan orang lain. Disinilah perlunya kita berada dalam barisan yang rapi. Barisan yang akan selalu ada dan siap membantu kita membuktikan rasa syukur kita kepada-Nya.
“Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
QS. Ash-Shaff (61) : 4.
Mereka saling nasehat-menasehati dalam hal yang ma'ruf dan menjauhi yang munkar. Apabila ada salah satu dari “bangunan” tersebut ada yang sakit maka yang lain pun ikut merasakan. Apakah sudah cukup sampai disini? Tentu saja belum kawan. Setelah kita berada di barisan yang rapi, ada kewajiban kita untuk membagikan kebahagiaan yang kita miliki kepada semua orang. Caranya? Allah Swt telah memberi solusinya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
QS. Ali Imran (3) : 104
Solusinya adalah berdakwah. Menyampaikan ar-risalah pada semesta alam. Mengajak manusia kepada jalan yang haq. Mengeluarkan manusia dari kejahiliahan menuju Al-Khoir. Tujuannya satu yaitu agar kita bisa saling berpegang teguh pada tali Agama-Nya dan bersama-sama meraih Mardhotillah.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.QS. Ali Imran (3) : 103
Maka, kebahagiaan yang hakiki itu niscaya akan kita raih. Karena, janji Allah adalah benar.Ia tidak akan ingkar akan ketetapannya. Kebahagiaan yang tersurat dalam sabdaNya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. QS. Ali Imran (3) : 19
Seperti hanya judul tulisan ini “kebahagiaan adalah pilihan”, maka pilihan itu telah Allah sodorkan pada kita. Kini, tinggal kita putuskan mana yang akan kita pilih. Karena, tidak ada paksaan dalam Islam.Mengapa? Karena telah jelas mana jalan yang haq dan mana jalan yang bathil.
Satu lagi ney yang pengen saya bagi di tulisan ini mengenai arti hakiki tentang sebuah kebahagiaan. Mungkin akan ada banyak pendapat mengenai apa itu bahagia. Tapi, disini saya tidak akan membahas perbedaan-perbedaan itu.Yang ingin saya bagi ialah kebahagiaan bagi seorang Muslim itu seperti apa sey.
Mungkin atau bahkan seringkali kita menilai bahwa bukti rill sebuah kebahagiaan itu ialah dengan memiliki banyak uang, pekerjaan yang mapan, memiliki pendamping hidup yang tampan atau cantik. Saya fikir itu tidak salah, karena saya pun seringkali memiliki anggapan demikian.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.QS. Ali Imran (3) : 14
Namun, pernah gak kita berpikir kalo kesemuanya itu hanya sementara alias bisa aja sewaktu-waktu kebahagiaan itu akan Allah cabut kembali dari kita. Uang yang kita miliki, pekerjaan yang kita bangga-banggakan dan pendamping hidup ayng kita harapkan akan selamanya mendampingi kita. Satu keniscayaan bahwa suatu hari nanti itu semua akan kembali kepada Sang Pemilik Alam Semesta ini.
Tapi, ada satu kebahagiaan yang hakiki.Kebahagiaan yang akan terus tumbuh dan berkembang menjadi taman indah. Tidak akan pernah Allah cabut kembali, karena Allah akan menjamin kebahagiaan itu tetap ada dalam hati kita. Allah telah mempersiapkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari tu semua.
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?". Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah; Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hambanya.
QS. Ali Imran (3) : 15
Kalo mengutip judul lagu Hedi Yunus “Ku bersyukur jadi Muslim”, memang menjadi seorang Muslim ialah satu kebahagiaan yang tak terhingga. Lalu, apakah bukti kalo kebahagiaan sebagai Muslim itu akan Allah jaga?
Seperti yang Allah sabdakan dalam ayat-ayat cintanya bahwa “tidaklah seorang hamba mengaku beriman sebelum ia diuji dengan ujian yang sama seperti umat-umat sebelumnya”. Maka, siap-siaplah kawan ketika kita mengikrarkan diri bahwa kita bersyukur menjadi Muslim ketika itu pula Allah akan mendatangkann ujiannya untuk kita. Ujian yang akan membuktikan sejauh mana rasa syukur kita.
Apakah cukup sampai disini? Ohhh...tentu tidak kawan. Dalam setiap ujian pasti ada yang sukses dan ada yang gagal menjalaninya. Pasti ada yang tak kuat menjalaninya, butuh dukungan, butuh uluran tangan orang lain. Disinilah perlunya kita berada dalam barisan yang rapi. Barisan yang akan selalu ada dan siap membantu kita membuktikan rasa syukur kita kepada-Nya.
“Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
QS. Ash-Shaff (61) : 4.
Mereka saling nasehat-menasehati dalam hal yang ma'ruf dan menjauhi yang munkar. Apabila ada salah satu dari “bangunan” tersebut ada yang sakit maka yang lain pun ikut merasakan. Apakah sudah cukup sampai disini? Tentu saja belum kawan. Setelah kita berada di barisan yang rapi, ada kewajiban kita untuk membagikan kebahagiaan yang kita miliki kepada semua orang. Caranya? Allah Swt telah memberi solusinya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
QS. Ali Imran (3) : 104
Solusinya adalah berdakwah. Menyampaikan ar-risalah pada semesta alam. Mengajak manusia kepada jalan yang haq. Mengeluarkan manusia dari kejahiliahan menuju Al-Khoir. Tujuannya satu yaitu agar kita bisa saling berpegang teguh pada tali Agama-Nya dan bersama-sama meraih Mardhotillah.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.QS. Ali Imran (3) : 103
Maka, kebahagiaan yang hakiki itu niscaya akan kita raih. Karena, janji Allah adalah benar.Ia tidak akan ingkar akan ketetapannya. Kebahagiaan yang tersurat dalam sabdaNya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. QS. Ali Imran (3) : 19
Seperti hanya judul tulisan ini “kebahagiaan adalah pilihan”, maka pilihan itu telah Allah sodorkan pada kita. Kini, tinggal kita putuskan mana yang akan kita pilih. Karena, tidak ada paksaan dalam Islam.Mengapa? Karena telah jelas mana jalan yang haq dan mana jalan yang bathil.

No comments:
Post a Comment